Mengenal Lebih Dekat Kepala Bakamla, Laksamana Madya Achmad Taufiqoerrochman

Kepala Bakamla, Laksamana Madya TNI Achmad Taufiqoerrochman. (Foto: Pandivabuku.com)

Ketegangan Indonesia dengan China di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) RI, dekat perairan Natuna Kepulauan Riau, mencuat dalam beberapa waktu terakhir. Penyebabnya adalah kapal nelayan China yang dikawal Coast Guard terdeteksi menangkap ikan di wilayah ZEE Indonesia, pada Desember 2019 lalu.

Pasca kejadian tersebut, Badan Keamanan Laut (Bakamla) terus memperkuat wilayah perairan Natuna. Tindakan Bakamla terhadap kapal – kapal asing tersebut patut diapresiasi.

Kepala Bakamla, Laksamana Madya Achmad Taufiqoerrochman menyatakan pihaknya akan terus menjaga perairan tersebut setelah masuknya kapal-kapal asing dari China, bahkan, Bakamla akan menambah pasukan di perairan tersbut untuk mengawasi kapal asing yang mencoba mencuri ikan di sana.

Keputusan memperkuat perairan Natuna tentunya tidak diputuskan begitu saja, melainkan telah melalui berbagai pertimbangan. “Bakamla dalam konteks kasus ini adalah bekerja berdasarkan aturan pelibatan, Bakamla berperan mencegah terjadinya konflik” ujar penulis buku ‘Kepemimpinan Maritim’ belum lama ini.

Karier Militer

Pria kelahiran Sukabumi, 18 Oktober 1961 ini adalah alumnus Akademi Angkatan Laut (AAL) ke-30 tahun 1985. Lebih dari separuh usianya di abdikan untuk Angkatan Laut.

Selama berdinas di TNI AL, hari-harinya lebih sering diisi di atas kapal perang dan mengurusi serbaneka persoalan keamanan maritim, daripada besinggungan dengan masyarakat, pemerintahan, partai politik, atau pengusaha. Jadi, ia memang bertumbuh kembang bersama KRI-KRI tempat bertugas. Di sanalah ia ditempa dan belajar banyak hal.

Beberapa jabatan pernah ia jalani sebelumnya, yakni DPB Staf Operasi Markas Komando Armada Timur (1985), Asisten Perwira Divisi Navigasi KRI Fatahillah-361 (1985), Perwira Divisi Navigasi dan Komunikasi KRI Ajak-653 (1986), PS Perwira Divisi Navigasi KRI Fatahillah-361 (1986), Perwira Divisi Navigasi dan Komunikasi KRI Ajak-653 (1987).

Baginya ini adalah tugas awal yang mengesankan, karena KRI Fatahillah dilengkapi radar Racal Decca AC 1229 untuk surface search dan Signaal DA 05 untuk air and surface search, juga pemandu tembakan Signaal WM 28.

Kadep Ops KRI Rencong-622 diembannya pada 1994, Perwira Pelaksana (Palaksa) KRI Pati Unus-384 tahun 1995, dan Komandan KRI Pulau Rani-701 pada 1996. Pada masa-masa tersebut, situasinya tentu berbeda, karena peranannya meningkat ke spektrum lebih besar, sebagai komandan KRI.

Pengalaman tersebut berkontribusi besar pada pembentukan karakternya. Kepemimpinan Taufiqpun semakin aktual, karena diterapkan pada wadah yang sejak lama, yang ia tekuni. Pertanggungjawabannyapun membesar, lebih dari yang pernah ia jalani sebelumnya. Hari-hari yang penuh hikmah, lantaran ia semakin berkembang baik.

Ia sempat diamanahi jabatan Dik Seskoal DPB Detasemen Markas Komando Armada Timur (1997) dan Paopsjar Sekolah Lanjutan Perwira Pusat Pendidikan Operasi Laut Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI AL (1998), sebelum kembali mengomandani kapal perang, KRI Badik-623 (2000).

Setahun bertugas sebagai Kepala Jurusan Pelatihan Dep Prof Akademi Angkatan Laut (2002), ia lalu mengomandani KRI Karel Satsuit Tubun-356 (2003). Semasa ini, KRI Karel Satsuit Tubun-356 menjadi fregat pertama yang diaktifkan kembali setelah sepuluh tahun tidak beroperasi. Keberhasilannya membebaskan kapal MT Pematang milik Pertamina yang dibajak separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Selat Malaka diraih ketika itu.

Pada 2004, ia berturut-turut menjabat Komandan Satuan Patroli Komando Armada Timur dan Kasubdis Pernika Dinas Komunikasi dan Elektronika TNI Angkatan Laut Markas Besar TNI AL. Setelahnya, Satuan Kapal Eskorta Komando Armada Timur dikomandani Penulis selama dua tahun (2005-2007).

Tahun 2008, Ia adalah Staf Ahli Panglima ‘A’ Wilayah Nasional Komando Armada Timur, berlanjut dengan menjadi dosen Sekolah dan Staf Komando TNI, setahun kemudian (2009). Pada 2010, ia menjabat Komandan Komando Latihan Armada Timur.

Ia menjadi Komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada Barat pada 2011. Ia memimpin Satuan Tugas Duta Samudera untuk membebaskan kapal MV Sinar Kudus dari para perompak Somalia. Misi tuntas dan semua sandera selamat.

Februari 2012, ia menjabat Wakil Gubernur Akademi Angkatan Laut, dan November 2013, ia dipercaya menjabat Kepala Staf Komando Armada Barat. April 2014, ia memimpin Akademi Angkatan Laut sebagai Gubernur, dan mengubah banyak tatanan pendidikan angkatan laut menjadi lebih berkarakter. Hingga pada Oktober 2014, ia dilantik sebagai Koordinator Staf Ahli Kepala Staf Angkatan Laut.

Wagub AAL adalah unsur pembantu dan pelaksana utama Gubernur AAL dalam melaksanakan fungsi komando terhadap unsur-unsur bawahannya, seperti mengkoordinasikan dan memberikan pengarahan kepada unsur-unsur di lingkungan AAL dalam menyusun petunjuk, rencana, dan program kerja anggaran AAL serta mengkoordinasikan, mengawasi, dan mengendalikan pelaksanaan program kerja AAL, personel, materiil, dan keuangan AAL; selain mengemban fungsi inspektorat di lingkungan AAL.

Kariernya untuk AAL mencapai puncaknya, setelah setahun menjabat Kepala Staf Komando RI Kawasan Armada Barat (Kas Koarmabar) pada 2013, ia pun memimpin AAL sebagai Gubernur. Pada eranya, beberapa kebijakan yang diambil lebih banyak bersinggungan dengan pembentukan karakter taruna. Misalnya, ia tidak berkompromi pada taruna yang mencontek, dan hukumannya, keluar dari akademi, dan November 2018, Ia diamanahi jabatan Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla).

Atas kontribusinya kepada bangsa dan negara, ia menerima berbagai tanda jasa. Di antaranya, Satyalancana WiraKarya untuk keberhasilan Satgas Duta Samudera, Satyalancana Wira Dharma untuk keberhasilan mengamankan perbatasan, serta Satyalancana Wira Nusa untuk darma bakti pengamanan pulau terluar.

Buku ‘Kepemimpinan Maritim’ karyanya tersebut berisi tentang perjalanan hidupnya selama berkarir di dunia militer. Buku tersebut ia dedikasikan kepada segenap Rakyat Indonesia, terutama generasi penerus bangsa. Bahwa kepemimpinan maritim kini sangat relevan, terutama untuk mengolah sumberdaya laut yang senyatanya sangat melimpah untuk kesejahteraan Rakyat Indonesia.

Tertarik dengan buku karyanya? Silakan kunjungi website Pandivabuku.com