Arti Penting Hidrografi Mendukung Poros Maritim Dunia

WORLD CLASS HYDROGRAPHER

Indonesia sebagai negara kepulauan sudah selayaknya untuk menjadi Poros Maritim Dunia. Pencapaian target tersebut tentunya tidak mudah. Diperlukan peningkatan pilar-pilar yang digunakan untuk mencapai visi Poros Maritim Dunia yang diinginkan oleh bangsa Indonesia.

Salah satu pilar yang sangat penting adalah Budaya Maritim dengan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bidang kelautan. Untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia pada abad 21 nanti, Presiden Joko Widodo sudah mencanangkan lima pilar utama.

Kelimanya bertujuan untuk membangun kembali budaya maritim Indonesia, menjaga dan mengelola sumber daya laut, mendorong pengembangan infrastruktur, diplomasi maritim, serta membangun kekuatan pertahanan maritim.

Rencana Presiden Joko Widodo tidak hanya terpusat pada lima pilar utama saja. Presiden optimis, dengan adanya bonus demografi, Indonesia mampu menduduki 5 besar negara dengan ekonomi terkuat tahun 2045.

Tantangan ini sebenarnya merupakan kesempatan besar yang terlalu sayang dilewatkan. Oleh karena itu, beliau juga menegaskan bahwa membangun SDM harus didukung oleh ekosistem politik dan ekonomi yang kondusif. Aspek ini yang akan menjadi fokus utama pemerintahannya selama 5 tahun mendatang.

Selain itu, membangun SDM juga secara optimal serta diimbangi dengan penggunaan teknologi. Secara tidak langsung, SDM hidrografi menjadi pilar yang dapat menunjang ketercapaian visi tersebut. Kiprah Pushidrosal tidak hanya terhenti di tingkat nasional saja.

Lebih dari itu, kontribusi Pushidrosal sudah merambah hingga tingkat regional dan internasional. Pushidrosal sebagai Kotama Ops Mabes TNI dan Kotama Bin TNI AL berdasarkan Perpres nomor 62 tahun 2016, diperbarui dengan Perpres nomor 66 tahun 2019 mengemban tugas untuk mendukung TNI AL dalam melaksanakan Operasi Militer untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Selain itu, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 288 Tahun 1968, Pushidrosal ditunjuk oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai wakil negara Republik Indonesia di Lembaga Hidrografi Dunia atau International Hydrographic Organization (IHO) dan East Asia Hydrographic Commission (EAHC), serta beberapa organisasi profesi internasional di bidang Hidrografi lainnya.

Sebagai lembaga yang telah diakui dunia, semestinya semua aspek yang terkait peningkatan mutu sudah terpenuhi. Namun, fakta di lapangan menunjukkan adanya kekurangan SDM pengawak Pushidrosal maupun tenaga pendidik di Pendidikan Spesialisasi Perwira HidroOseanografi (Pusdikhidros) yang berasal dari universitas terbaik di Indonesia.

Untuk mewujudkan SDM yang profesional, diperlukan adanya pembinaan sistematis, terarah, dan berkesinambungan melalui pendidikan dan praktik, serta pemberian pengalaman penugasan yang sesuai dengan pengembangan profesinya.

Pusdikhidros bertugas menyelenggarakan pendidikan hidrografi dan oseanografi yang bertujuan mendidik dan membekali perwira peserta didik TNI AL untuk menjadi prajurit pejuang Sapta Marga. Tentunya, prajurit yang memiliki profesionalisme matra laut, serta mampu merencanakan dan melaksanakan survei pemetaan hidrografi dan oseanografi demi mendukung kepentingan militer maupun kepentingan non-militer.

Seperti yang di bahas dalam buku “World Class Hydrograper karya Dr. Haris Djoko Nugroho. Buku ini membahas tentang studi evaluasi pada berbagai level mengenai pendidikan Hidrografi yang sudah berlangsung.

Program Dikspespa Hidros merujuk pada Kurikulum IHO telah diakui sebagai Pendidikan Surveyor Hidrografi Kategori ”B” (Basic Hydrographic Course) oleh The International Hydrographic Organization (IHO), Federation Internationale des Geometres (FIG), dan The International Cartographic Association (ICA) atau IHOFIG-ICA.

Pengakuan tersebut khususnya terdapat dalam penyelenggaraan Pendidikan Surveyor Hidrografi Kategori “B” bagi Perwira Angkatan Laut dalam bidang keahlian (spesialisasi) “Nautical Charting Hydrography and Hydrography for Coastal Zone Management (Spesialisasi dalam bidang Pemetaaan Laut Hidrografi dan Hidrografi untuk Manajemen Wilayah Pantai)”.

Pengakuan ditunjukkan oleh Sertifikat Pengakuan/Akreditasi IHO yang ke-4 kalinya pada tanggal 25 April 2013. Selama ini, peserta didik Dikspespa Hidros dibatasi beberapa persyaratan karena mata pelajaran yang diberikan cukup berat. Kurikulum Dikspespa Hidros menitikberatkan materi dasar Surveyor Hidrografi berupa pelajaran eksakta yang memerlukan kemampuan personil yang baik.

Kemampuan tersebut merupakan syarat mutlak bagi peserta Dikspespa Hidros karena jam pelajaran yang diberikan sangat singkat. Pusdikhidros merupakan sekolah nasional bertaraf internasional yang mengedepankan kualitas manusia yang tinggi dan penguasaan sains, kedewasaan mental, kebebasan berkreasi dan menjunjung pembentukan sikap mulia.

Dibutuhkan tenaga kependidikan yang mampu menopang kebutuhan administrasi peserta didik dan membantu peserta didik untuk meningkatkan kualitasnya. Tenaga kependidikan yang ada di Pusdikhidros saat ini sudah memenuhi standar, yaitu sebanyak 76 persen

Tenaga Pendidik Dikspespa Hidros sebagian besar masih berasal dari Pusdikhidros (50%), dari Pushidros (40%), dan dari luar TNI AL (ITB dan BPPT) (10%), sehingga perlu penambahan tenaga pendidik yang berasal dari universitas terbaik di Indonesia terkait dengan program yang dikembangkan, agar kualitas pendidikan lebih maksimal.

Tenaga pendidik sudah memiliki pengalaman bidang operasi survei Hidro-Oseanografi, memiliki kualifikasi di bidang Hidrografi serta latar belakang pendidikan S1, S2 dan S3. Setelah dilakukan evaluasi, alumnus merasa puas dengan tenaga pendidik yang mendukung kegiatan praktik Dikspespa Hidros.

Alumnus mampu menerapkan pengetahuan dengan baik dalam pekerjaannya. Begitu pula dengan kemampuan fisik dan emosional yang sudah ditempa. Lulusan Dikspespa Hidros umumnya dapat langsung turut serta dalam operasi survei HidroOseanografi dan memahami pekerjaan, terutama alumnus yang pernah bertugas di Pusdikhidrosal.

Lain halnya bagi alumnus yang berasal dari non-hidros (Armada, Lantamal dan Lanal) masih perlu pendampingan dalam bekerja. Sebagian besar program Pendidikan Spesialisasi Perwira Hidro-Oseanografi sudah mencapai tujuan visi dan misi program hidros.

Agar program yang dikembangkan dapat lebih maksimal, diperlukan penambahan tenaga pendidik dari universitas terbaik di Indonesia. Tenaga pendidik yang mengajar di Program Pendidikan Spesialisasi Perwira Hidro-Oseanografi di Pusat Pendidikan HidroOseanografi TNI AL perlu diberikan sertifikasi profesi. Selain itu, tenaga pendidik fokus dalam mengajar dan tidak merangkap jabatan antara akademisi dan birokrasi.

Dengan demikian, proses pembelajaran dapat berjalan maksimal. SDM lulusan Pusdikhidros diharapkan dapat menjadi sumbangan penting bagi pembangunan kelautan di Indonesia. Pada akhirnya, SDM berkualitas di bidang Hidrografi menjadi pilar penting untuk menyukseskan Poros Maritim Dunia yang dicanangkan bangsa Indonesia

Biografi Penulis

Dr. Haris Djoko Nugroho adalah pria kelahiran Jepara, 8 Oktober 1965, anak ke-4 dari pasangan MS. Soeharsono dan Hasimah yang bertempat tinggal di Jalan Sentosa II/14 Komplek TNI-AL Kelapa Gading Jakarta Utara.

Pendidikan militernya dimulai pada tahun 1992 dengan mengikuti pendidikan spesialis perwira Hidrografi dan Oseanografi. Pendidikan formal yang pernah ia tempuh yakni SDN 01 Jepara, lulus tahun 1977, SMP Negeri 02 Jepara, lulus tahun 1981, dan SMA Negeri Jepara, lulus tahun 1984.

Selepas SMA, ia melanjutkan ke jenjang perkuliahan dan lulus menjadi sarjana Geografi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 1990.

Pendidikan formalnya tidak sampai disitu, ia kemudian melanjutkan ke jenjang strata dua dan lulus menjadi Magister Sains Pengelolaan Sumber daya Lautan di Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor pada tahun 2003 serta pada tahun 2012 masuk pada Program Doktor Ilmu Manajemen Universitas Negeri Jakarta.

Ia bergabung dengan TNI AL melalui SEPAMILSUK ABRI pada tahun 1988, melanjutkan kuliah S1 sampai dengan tahun 1990 di Fakultas Geografi UGM sebagai perwira beasiswa TNI, selanjutnya mengabdikan sebagai perwira TNI AL di Dishidros TNI AL pada tahun 1991 sebagai Kepala Sub unit Geofisika di Satuan Survei Dishidros, 1992-1995 bergabung di jajaran kapal survei di KRI Dewa Kembar-932 (DKB).

Sejak tahun 1995 sampai dengan 2002, ia menempati jabatan terahir sebagai Kepala Sub Seksi Pengolahan Geografi Fisika, Subdis Survei Dishidros, tahun 2003 hingga dengan 2006 di Dispeta sebagai Kepala Seksi Verifikasi Peta,

Ia kembali di satuan survei tahun 2007 menduduki jabatan sebagai Kepala Seksi Administrasi, Satuan Survei, Dishidros. Pada tahun 2008 sampai dengan 2014, ia tour off duty ke Direktorat Wilayah Pertahanan, Kementerian Pertahanan dengan jabatan sebagai Kepala Sub Direktorat Perbatasan Darat, Laut dan Udara, pada tahun 2014-2016.

Ia kembali berdinas di jajaran TNI AL dan dipercaya menduduki jabatan sebagai Kepala Kelompok Peneliti, Dishidros. Tahun 2016 sampai sekarang penulis menjabat sebagai Direktur Operasi Survei dan Pemetaan, Pushidrosal.

Tertarik dengan buku karyanya atau buku-buku lainya, silahkan kunjungi website pandivabuku.com atau bisa pesan melalui nomer WA 085743899713, serta bagi yang menginginkan buku tersebut bisa kunjungi laman ini “World Class Hydrograper”.