Kehidupan Suku Laut di Pulau Bertam

Buku Suku Laut Pulau Bertam. (Foto: Pandiva Buku)

Potret Komunitas Adat Terpencil (KAT) selalu menarik diperbincangkan. Secara alamiah, komunitas ini memiliki caranya sendiri untuk bertahan hidup. Mereka menjalani hidup dengan kebajikan autentik yang dipegangteguhi serta menerjemahkan kehidupan dari sudut pandang alam.

Suku Laut (Sea Nomads) Pulau Bertam Kota Batam adalah salah satu dari sekian banyak KAT di Nusantara. Habitat serta tempat membentuk lingkungan sosial dan budaya Suku Laut adalah laut.

Mereka hidup menyebar di wilayah Batam, serta di sekitar Selat Malaka, Selat Phillip, Selat Singapura, dan Laut Tiongkok Selatan.

Bagi negara, mobilitas Suku Laut dianggap menyebabkan persoalan, menyangkut konsentrasi teritorial, masalah politis, ekonomi, sosial-budaya, dan masalah pertahanan keamanan.

Pemerintah kemudian turun tangan dalam bentuk Program Perberdayaan Komunitas Suku Laut. Salah satu outputnya, Suku Laut dapat bermukim secara permanen di Pulau Bertam Kota Batam.

Kebijakan penempatan permanen untuk kesejahteraan Suku Laut tidak lantas mengesampingkan aspek survival mereka yang telah mendarah daging. Karena berdasarkan sejarah, Suku Laut termasuk bangsa maju (neolithicum) dan bagian dari kebudayaan batu besar (megalithicum) yang membawa adat istiadat serta budaya khas turun-temurun.

Kemampuan navigasi Suku Laut sebagai pengetahuan mereka hidup survive nomaden mengitari lautan sangatlah menakjubkan. Artinya, pemberdayaan yang ditujukan pada Suku Laut juga memperhatikan potensi mereka.

Dinamika Suku Laut yang tidak seperti kebanyakan suku terpencil di Indonesia, memberi konsekuensi khusus, bukan hanya berimplikasi pada penyesuaian strategi, tapi juga pendanaan. Situasi lapangan yang bisa jadi tidak lagi seperti tertera di atas kertas rencana.

Tentang Buku Suku Laut

Atik Rahmawati, salah satu dosen Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Unej berhasil mendokumentasikan studinya selama ini tentang Suku Laut Pulau Bertam menjadi sebuah buku berjudul Suku Laut Pulau Bertam: Sebuah Implementasi Program Pemberdayaan. Buku terbitan Pandiva Buku Yogyakarta ini dirilis pertama kali pada tahun 2015.

Kerja keras penulisan buku untuk mendokumentasikan proses transformasi Suku Laut menjadi warga negara kebanyakan tidak mudah. Studi serupa belum tentu dapat bertemu dengan momentum penting, adaptasi Suku Laut yang kemudian memutuskan tinggal permanen di permukiman.

Dinamika Suku Laut yang tidak seperti kebanyakan suku terpencil di Indonesia, memberi konsekuensi khusus, bukan hanya berimplikasi pada penyesuaian strategi, tapi juga pendanaan. Situasi lapangan yang bisa jadi tidak lagi seperti tertera di atas kertas rencana.

Beruntung, penulis buku adalah seorang pakar dalam bidangnya. Tingkat kesulitan yang dihadapi justru melahirkan karya monumental dan layak dijadikan referensi stakeholders atau peneliti selanjutnya.

Sebutlah Indonesia merupakan gabungan mozaik nusa dan bangsa, tambahnya, studi tentang Suku Laut Pulau Bertam dapat dianggap sebagai representasi sebuah dedikasi keutuhan NKRI dengan memperjuangkan hak semua warga negara, hingga daerah terpencil.

Biografi Penulis

Atik Rahmawati, S.Sos., M.Kesos. Lahir di Bojonegoro, 14 Februari 1978. Pendidikan S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial ditempuh di Universitas Jember pada 1997-2002, lalu pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia pada 2008-2011. Selain memiliki jam terbang tinggi dalam penelitian, penulis juga intens dalam program pengabdian masyarakat.

Ia aktif sebagai anggota Ikatan Pendidik Pekerja Sosial Indonesia (IPPSI) sejak 2011, selain itu Ia juga sebagai Dewan Pengawas Etik Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) DPD Jawa Timur sejak tahun 2014.

Ia pernag menjadi peserta dalam The Training Programme For Young Leaders (JICA) Tokyo Japan 2007 untuk bidang kajian Social Welfare.

Tertarik dengan buku karyanya atau buku-buku lainya, silahkan kunjungi website pandivabuku.com atau bisa pesan melalui nomer WA 085743899713, serta bagi yang menginginkan versi e-booknya bisa kunjungi laman ini ‘Suku Laut Pulau Bertam’