Konsep Operasi Maritim Indonesia  

Buku Konsep Operasi Maritim Indonesia karya Laksamana Madya TNI (Purn.) Achmad Taufiqoerrochman M., S.E.

Konsep Operasi Maritim Indonesia memberikan gambaran bagaimana menyusun sebuah konsep operasi yang dipengaruhi oleh karakteristik geografi melalui pendekatan Daerah Operasi Maritim.

Pada setiap daerah operasi maritim diperlukan kapasitas, kemampuan dan kesiapan dari kekuatan laut yang akan digunakan.

Pendekatan daerah operasi dikatagorikan sebagai Daerah Operasi Prioritas Tinggi (High Priority Area), Daerah Operasi Prioritas Sedang (Medium Priority Area), Daerah Operasi Prioritas Rendah (Low Priority Area) dan Daerah Operasi Khusus yang merupakan daerah operasi di luar yurisdiksi nasional yang berpengaruh bagi kepentingan nasional.

Konsep Operasi Maritim salah satunya dirancang untuk mewujudkan kekuatan laut yang seimbang dalam kapasitas, kemampuan dan kesiapan dengan susunan bertempur yang dibangun, dilengkapi, dilatih dan disiapkan dengan optimal sehingga mampu beroperasi dalam lingkungan maritim yang kompleks, menantang, cepat berubah dan tidak menentu.

Kewajiban utama pimpinan dalam menyelenggarakan operasi maritim adalah manajemen kesiapan operasional.

Kesiapan operasional (Operational Readiness) dalam penyelenggaraan operasi maritim pada satuan satuan kekuatan laut ditentukan oleh tiga elemen yang membentuk formulasi kesiapan operasional yaitu kesiapan material (Material Readines), kesiapan personil (Personel Readiness) dan tingkat pelatihan (Operational Training).

Langkah-langkah dalam menjabarkan misi maupun tugas, menganalisa lingkungan strategis maritim, menyusun konsep operasi, pembinaan kekuatan dan kesiapan operasional serta penilaian defisit kemampuan (capability gap) maupun identifikasi risiko dan pengelolaannya merupakan contoh bagian dari Konsep Operasi Maritim Indonesia.

Konsep Operasi Maritim Indonesia mengambil contoh TNI AL yang disusun dalam sebuah Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) yang terdiri atas KRI, Marinir, Pesawat Udara dan Pangkalan. Setiap komponen SSAT tersebut memiliki fasilitas komando dan infrastruktur pendukung yang tersebar di darat dan di laut. Kekuatan SSAT TNI AL merupakan unsur utama dalam  kekuatan pertahanan maritim yang dapat dikerahkan sewaktu-waktu untuk melaksanakan tugas-tugas negara di bawah komando dan kendali Panglima TNI.

Mabes AL berkewajiban untuk membina dan menyiapkan kekuatan  SSAT  TNI AL untuk dapat digunakan oleh Panglima TNI. Dengan demikian,  pentingnya kesiapan Angkatan Laut untuk melaksanakan tugas-tugas yang diberikan. Hal ini ditentukan oleh kepentingan strategis nasional Indonesia yang dijabarkan ke dalam misi dan tugas-tugas Angkatan Laut sesuai Undang-Undang TNI.

Dalam buku ini, penulis telah merumuskan ruang lingkup Konsep Operasi (Konops) Angkatan Laut sebagai salah satu penjabaran dari konsep operasi maritim yang dirancang dengan maksud untuk menjelaskan bagaimana Angkatan Laut akan dioperasikan agar siap dan mampu melaksanakan misi dari TNI AL.

Dokumen ini akan memperkuat penyusunan strategi pertahanan maritim Indonesia dan menjadi panduan operasional dalam implementasinya. Salah satu unsur penting dalam strategi pertahanan maritim nasional adalah terwujudnya konsep pertahanan berdasarkan konsep perencanaan pembangunan kekuatan TNI.

Konops Maritim Indonesia membahas materi-materi dengan menggunakan contoh TNI AL seperti penjelasan tugas-tugas TNI AL, analisa lingkungan strategis maritime, konsep operasi, pembinaan kekuatan dan kesiapan operasional, dan penilaian defisit kemampuan (capability gap), serta  identifikasi risiko dan pengelolaannya.

Dengan dirumuskannya dokumen Konops Maritim ini penulis berharap semua mampu memahami bagaimana Angkatan Laut akan beroperasi ke depan dan terlebih penting adalah visi terwujudnya kekuatan laut yang profesional dan modern, serta berkemampuan proyeksi regional dan berkomitmen global akan tercapai

Biografi Penulis

Laksamana Madya TNI  Achmad Taufiqoerrochman lahir di Sukabumi, 18 Oktober 1961, Penulis adalah alumnus Akademi Angkatan Laut (AAL) ke-30 tahun 1985. Pada 14 Juni 1996, ia mengomandani KRI Pulau Rani-701, jabatan pertamanya sebagai pemimpin.

Beberapa jabatan Penulis jalani sebelumnya, yakni DPB Staf Operasi Markas Komando Armada Timur (1985), Asisten Perwira Divisi Navigasi KRI Fatahillah-361 (1985), Perwira Divisi Navigasi dan Komunikasi KRI Ajak-653 (1986), PS Perwira Divisi Navigasi KRI Fatahillah-361 (1986), Perwira Divisi Navigasi dan Komunikasi KRI Ajak-653 (1987).

Selanjutnya, DPB Pendidikan Spesialisasi Perwira Detasemen Markas Komando Armada Timur (1990), PS Kepala Departemen Operasi KRI Ajak-653 (1991), Kepala Sub Direktorat Pengendalian Divisi Latihan ASTT Departemen ASTT Pusat Latihan Elektronika dan Sistem Kendali Senjata Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI AL (1993), Kepala Departemen Operasi KRI Rencong-622 (1994), Perwira Pelaksana KRI Pati Unus-384 (1995).

Purna Komandan KRI Pulau Rani-701, penulis sempat diamanahi jabatan Dik Seskoal DPB Detasemen Markas Komando Armada Timur (1997) dan Paopsjar Sekolah Lanjutan Perwira Pusat Pendidikan Operasi Laut Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI AL (1998), sebelum kembali mengomandani kapal perang, KRI Badik-623 (2000).

Setahun bertugas sebagai Kepala Jurusan Pelatihan Dep Prof Akademi Angkatan Laut (2002), Penulis lalu mengomandani KRI Karel Satsuit Tubun-356 (2003). Semasa ini, KRI Karel Satsuit Tubun-356 menjadi fregat pertama yang diaktifkan kembali setelah sepuluh tahun tidak beroperasi.

Keberhasilannya membebaskan kapal MT Pematang milik Pertamina yang dibajak separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Selat Malaka diraih ketika itu.

Pada 2004, Penulis berturut-turut menjabat Komandan Satuan Patroli Komando Armada Timur dan Kasubdis Pernika Dinas Komunikasi dan Elektronika TNI Angkatan Laut Markas Besar TNI AL.

Setelahnya, Satuan Korvet Komando Armada Timur dikomandani Penulis selama dua tahun (2005-2007). Masih di tahun 2007, Penulis menjabat Padiklat DPB Satuan Petugas Korvet Dinas Pengadaan Angkatan Laut Markas Besar Angkatan Laut.

Tahun 2008, Penulis adalah Staf Ahli Panglima ‘A’ Wilayah Nasional Komando Armada Timur, berlanjut dengan menjadi dosen Sekolah dan Staf Komando TNI, setahun kemudian (2009). Pada 2010, Penulis menjabat Komandan Komando Latihan Armada Timur.

Penulis menjadi Komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada Barat pada 2011. Ia memimpin Satuan Tugas Merah Putih untuk membebaskan kapal MV Sinar Kudus dari para perompak Somalia. Misi tuntas dan semua sandera selamat.

Februari 2012, Penulis menjabat Wakil Gubernur Akademi Angkatan Laut, dan November 2013, ia dipercaya menjabat Kepala Staf Komando Armada Barat. April 2014, Penulis memimpin Akademi Angkatan Laut sebagai Gubernur, dan mengubah banyak tatanan pendidikan angkatan laut menjadi lebih berkarakter. Hingga pada Oktober 2014, ia dilantik sebagai Koordinator Staf Ahli Kepala Staf Angkatan Laut.

Tanggal 6 Februari 2015, Penulis menjabat Panglima Komando Armada Barat. Ketika itu, revitalisasi keamanan maritim untuk Perairan Natuna dan pembersihan Selat Malaka dari para perompak menjadi prioritas utamanya.

Natuna kemudian menjadi sorotan publik nasional untuk dibangun sebagai halaman depan republik, sementara Selat Malaka terbukti terkendali, meski pernah dianggap sebagai perairan paling berbahaya di dunia.

Juni 2016, Penulis adalah Asisten Perencanaan dan Anggaran Kepala Staf TNI Angkatan Laut. Dan sejak 18 Januari 2017, ia diamanahi menjabat Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Wakasal). Pembangunan pangkalan angkatan laut terpadu Teluk Ratai menjadi salah satu program utamanya. Per Oktober 2018, Penulis dipercaya mengepalai Badan Keamanan Laut (Bakamla).

Di tengah kesibukannya berdinas, pada 2004, Penulis dapat menyelesaikan pendidikan non-militernya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Wijaya Putra UWP Surabaya. Pemahamannya akan sea power yang tidak hanya memerankan angkatan laut sebagai faktor penting, tapi juga kesejahteraan ekonomi sebuah negara, semakin menguat.

Atas kontribusinya kepada bangsa dan negara, Penulis menerima berbagai tanda jasa. Di antaranya, Satyalancana Wira Karya untuk keberhasilan Satgas Merah Putih, Satyalancana Wira Dharma untuk keberhasilan mengamankan perbatasan, serta Satyalancana Wira Nusa untuk darma bakti pengamanan pulau terluar.

Tertarik dengan buku karyanya atau buku-buku lainya, silahkan kunjungi website pandivabuku.com atau bisa pesan melalui nomer WA 085743899713, serta bagi yang menginginkan buku tersebut bisa kunjungi laman ini “Konsep Operasi Maritim Indonesia”.