Mengelola Sumberdaya Perikanan Perairan Utara Papua untuk Kesejahteraan Nelayan dan Kedaulatan NKRI

Lumbung laut Papua. (Foto: Pandiva Buku)

Wilayah Perairan Ekuator Pasifik Barat dikenal mempunyai karakter oseanografi yang sangat dinamis. Perairan wilayah ini merupakan tempat persilangan (cross road) massa air yang berasal dari bumi belahan selatan dan belahan utara Samudera Pasifik, serta tempat pembentukan massa air Arus Lintas Indonesia (Arlindo) dan Arus Sakal Katulistiwa Utara.

Perairan tersebut dikenal mempunyai suhu permukaan laut paling hangat di dunia, yakni rata-rata sepanjang tahun nya lebih dari 29oC, dengan tingkat presipitasi yang tinggi dibanding evaporasinya.

Lapisan permukaan Perairan Ekuator Pasifik Barat terisolasi oleh lapisan penghalang (barrier layer) yang menahan naiknya massa air bawahnya (upwelling) menjadikan perairan ini miskin akan klorofil pada lapisan per mukaannya (oligotropik).

Meskipun produktivitas primer rendah, pada kenyataannya, perairan ini banyak mendukung berbagai habitat jenis ikan tuna. Wilayah yang dikenal dengan Kolam Hangat itu bahkan menyuplai bagian terbesar produksi tuna dunia, yakni lebih dari 1,5 juta ton per tahun di Samu dera Pasifik, atau sekitar 40 persen jumlah tangkapan tuna dunia dihasilkan dari wilayah Perairan Ekuator Pasifik Barat.

Dua spesies tuna yang ditangkap didominasi oleh Cakalang (Katsuwonus pelamis) dan Madidihang (Thunnus albacores). Apa yang menjadi daya tarik ikan pelagis samudera, seperti halnya cakalang dan tuna sirip kuning, memperoleh tempat yang nyaman bagi keberlangsungan hidup mereka di tengah gurun ‘panas’ dan ‘gersang’ ini?

Kuncinya terdapat pada keberadaan lapisan gendala dan angin kencang baratan (Westerly Wind Bursts) terkait gelombang atmosfer antar-samudera Madden Julian Oscilla tion (MJO). Ketika rejeim angin ini berlaku semakin intensif, momentum energi meningkat, dari semula terjebak di lapisan permukaan menjadi lebih dalam serta menghasilkan aliran maksimum massa air ke timur membawa welahar panas bergeser ke timur menuju Pasifik Tengah.

Ketidakhadiran lapisan gendala di Perairan Pasifik Barat memungkinkan angin mengaduk massa air lebih dalam di kolom terstratifikasi tersebut. Massa air dingin dan lebih asin serta kaya hara juga lebih mudah mengadakan sirkulasi terhadap lapisan atasnya. Suhu permukaan laut yang dingin, tentu saja mengurangi tingkat penguapan dengan produksi awan yang minimum, curah hujan pun mencapai minimum. Mekanisme ini menginduksi terjadinya peningkatan produktivitas phyto plankton, organisme renik peletak dasar dalam siklus rantai makanan di laut.

Kondisi ini kerap terjadi selama even El Niño berlangsung. Nutrien penting untuk pertumbuhan phytoplankton, seperti unsur besi dan magnesium banyak disuplai dari wila yah perairan sepanjang Pantai Utara Papua yang dibawa oleh Arus Pantai Papua.

Hamparan terumbu karang, inter aksi gelombang pasang surut dalam (internal tide) dengan punggung laut (sill) di Selat Halmahera, serta peng aruh sungai-sungai besar, seperti Sepik, Membramo, dan Matabori membawa sejumlah besar nutrien masuk ke dalam Perairan Oseanik Pasifik Barat.

Bayangkan saja, pasokan nutrien yang masuk ke laut dari Sungai Sepik sebesar 1,1 x 1010 mol/tahun untuk nitro gen dan 4,6 x 108 mol/tahun untuk unsur phospat. Referensi lain menyebut sekitar 0,05-1,02 μg At/l kan dungan fosfat an-organik dan 0,12-1,78 μg At/l nitrat terdeteksi di permukaan perairan muara Sungai Membramo yang kaya nutrien dan diperkaya unsur besi (Fe) dari akti vi tas geothermal atau sedimen fluvial di Lereng Benua Pantai Utara Papua.

Adalah Arus Pusar Halmahera (Halmahera Eddy) yang mengubah perairan miskin ini menjadi perairan produktivitas primernya meningkat tajam, terutama saat even El Niño berlangsung; membawa dan mendistribusikan massa air kaya phytoplankton dan nutrient dari perairan territorial Indonesia masuk ke dalam Sistem Arus Sakal Katulistiwa Utara yang kemudian menyebar hingga Pasifik tengah.

Peran penting tersebut yang diduga terkait dengan dina mika perikanan tuna, terutama di Pasifik Barat dan Pasifik Tengah. Bahkan produksi cakalang yang didaratkan (landing fishing) di pelabuhan sekitar Pantai Morotai menunjukkan adanya pengaruh yang kuat dengan pergeseran Halmahera Eddy.

Tidak heran jika Perairan Pasifik Barat dan Tengah (Western Central Pacific Ocean) sebagai wilayah yang me miliki arti penting dalam aspek ekonomi, budaya, dan keanekaragaman hayati laut, serta berkontribusi besar dalam ketahanan pangan, baik skala regional maupun internasional.

Perikanan tuna di wilayah itu meliputi hampir separuh perikanan dunia; menjadi ekonomi andalan bagi negaranegara kepulauan dengan wilayah teritorial perairannya. Sebagai gambaran, jumlah tangkapan tuna yang dihasil kan di wilayah WCPO adalah pada 2010 sebesar 2.421.113 metrik ton, mewakili sekitar 83 persen total penangkapan di seluruh Pasifik atau 60 persen total tangkapan dunia yang mencapai 4.017.600 metrik ton pada 2010.

Momentum politik dengan prioritas Presiden Joko Widodo menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia harus diawali dengan meletakkan laut sebagai jalan kesejahteraan.

Oleh karena itu, pengelolaan laut Indonesia, termasuk pemanfaatan sumberdaya ikannya, harus dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dengan mengetahui kekhasan laut Indonesia, segera nelayan kita akan menjadi tuan rumah di laut sendiri.

Tulisan diatas adalah pengantar buku “Lumbung Laut Papua” yang ditulis oleh Letkol Laut (KH) Dr. Gentio Harsono, dan Muhammad Riza Adha Damanik.

Melalui buku tersebut, kedua penulis ini berharap bahwa karya mereka dapat memberikan rangsangan pemikiran para penentu kebijakan kelautan dan perikanan, akademisi, serta stakeholder lain dalam mengelola sumberdaya perikanan Perairan Utara Papua untuk kesejahteraan nelayan dan kedaulatan NKRI.

Letkol Laut (KH) Dr. Gentio Harsono adalah pria kelahiran Tegal Jawa Tengah, 8 November 1969. Ia adalah penerima Beasiswa Unggulan P3SWOT dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2012).

Studi disertasinya bersama Japan Agency of Marine Science and Technology (JAMSTEC) Jepang bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Teknologi (BPPT) di perairan Pasifik Barat.

Beberapa tulisannya pernah dimuat di surat kabar seperti Harian Media Indonesia, Harian Sinar Harapan, Harian Pikiran Rakyat, serta aktif menulis di Jurnal Maritim Indonesia (Seskoal).

Sekarang penulis bekerja sebagai Paban di Staf Ahli Bidang Teknologi di Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal), selain menjadi dosen tetap di Prodi Industri Pertahanan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan RI, juga aktif mengajar di Sekolah Staf Komando TNI AL (Seskoal) di Cipulir Jakarta untuk Mata Kuliah Teknologi Kelautan

Sedangkan Muhammad Riza Adha Damanik adalah aktivis sosial dan lingkungan hidup yang ikut terlibat memperjuangkan penghormatan dan pemenuhan hak-hak konstitusional warga negara, melalui: penguatan kapasitas komunitas, advokasi hukum, dan kebijakan serta kampanye publik; mulai dari tingkat lokal, nasional, dan internasional.

Riza lahir di Kota Kerang Tanjung Balai Sumatera Utara, 17 Oktober 1980. Lulus sarjana di Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin, Makassar (1998), dan selesai di Universitas Diponegoro, Semarang (2002). Lulus S-2 Program Studi Ilmu Lingkungan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (2004). Menyelesaikan S-3 pada bidang pengelolaan sumberdaya alam di Universiti Sains Malaysia (2016).

Ia memperoleh pendidikan khusus bidang Ekonomi Politik Perjanjian Kerjasama Investasi Bilateral (Bilateral Investment Treaty) dari Transnational Institute, di Jerman (2014); Pendidikan Ekologi Politik dari Institute of Social Studies (ISS), di Belanda (2008); Pendidikan Advokasi Kebijakan Publik dari International for Rural Reconstruction (IIRR), di Filipina (2006).

Riza aktif menulis di berbagai media lokal dan nasional, di antaranya KOMPAS, GATRA, Sindo, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Neraca, Samudera, Jurnal Maritim, Forum Keadilan, dan lainnya, dengan topik pengelolaan pesisir dan laut, serta terbuka untuk topik-topik ekonomi dan sosial terkini.

Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2015, Riza mendapatkan penghargaan dari Kemenristek Dikti RI sebagai Juara II Kategori Penulis Umum yang mendukung Inovasi IPTEK untuk Daya Saing Bangsa.

Buku karya merekapun telah mendapat apresiasi dari Sekjen Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI), Ia mengatakan jika buku “Lumbung Laut Papua” ini mengungkapkan hal-hal dan kajian-kajian ilmiah yang menarik.

“Kajian sifat oseanografi, wilayah yang sangat dinamis dengan kondisi alam dan lingkungan yang mendukung, dan menjadi per airan yang subur, memperjelas bahwa wilayah ini memiliki banyak keunikan, khususnya dari sisi oseanografinya” ungkapnya.

Menurunya informasi tentang potensi ikan tuna, keanekaragaman hayati laut di wilayah ini, bermanfaat dalam kaitannya dengan ketahanan pangan. Semoga buku ini bisa menginspirasi dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Selain Sekjen ISOI, Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Kemenko Maritim, Amb Arif Havas Oegroseno ikut berbicara soal buku tersebut, menurutnya analisis tentang Pasifik dari sudut pandang kepentingan Indonesia masih sangat langka.

“Tulisan ini saya harapkan dapat menjadi pintu masuk keinginan intelektual Bangsa Indonesia untuk mempelajari semua kawasan maritim Indonesia. Tidak hanya Laut Cina Selatan, Selat Malaka, dan Selat Singapura” katanya.

Tertarik dengan buku karya mereka atau buku-buku lainya, silahkan kunjungi website pandivabuku.com atau bisa pesan melalui nomer WA 085743899713, serta bagi yang menginginkan versi e-booknya bisa kunjungi laman ini “Lumbung Laut Papua”.