Rehabilitasi Hutan Mangrove Pasar Banggi Rembang

 

Hutan Mangrove pasar Banggi Rembang. Foto (Humas Jateng, Pandiva buku)

Rembang – Hutan Mangrove Pasar Banggi terletak di Dukuh Kaliuntu, Desa Pasar Banggi, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Keberadaan Hutan Mangrove di Kawasan Pesisir Pantai Desa Pasar Banggi Kabupaten Rembang memiliki fungsi ganda, selain menahan abrasi juga berfungsi sebagai tempat berkembang biak ikan dan tempat wisata.

Program rehabilitasi mangrove terus dilakukan. Peneliti senior Universitas Jember, Purwowibowo, dalam bukunya “Hutan Mangrove Pasar Banggi Rembang”, mengatakan, pemimpin informal berperan signifikan untuk menggerakkan masyarakat, bahu-membahu merehabilitasi mangrove.

Penulis buku adalah seorang pakar di bidangnya. Ia bukan hanya memotret, mendokumentasikan, menemukan masalah, dan berusaha merumuskan pola perubahan. Penulis manunggal dengan realitas yang ada. Ia bahkan tinggal untuk beberapa lama di Desa Pasar Banggi untuk menyelesaikan studinya.

Didasari oleh adanya kerusakan tanggul tambak, sehingga sumberdaya petani berupa tambak dan sumber daya alam pesisir tidak dapat dimanfaatkan sebagai tempat budidaya. Dengan iniasi, rencana, pelaksanaan, dan penjagaan sendiri oleh seluruh anggota masyarakat maka pengembangan komunitas demikian disebut sebagai model pengembangan komunitas bottom-up.

Model pengembangan komunitas ini tidak datang dari pemerintah atau lembaga swadaya tertentu, melainkan atas kesadaran mereka sendiri mengenai kondisi lingkungan sekitarnya.

Rehabilitasi mangrove dapat melindungi aset komunitas dan menghasilkan berbagai sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan seluruh komunitas yang merupakan upaya seluruh masyarakat pesisir.

Proses pengembangan komunitas bottom-up menggunakan potensi lokal atau berbasis kearifan lokal yang berlangsung dalam kurun waktu panjang. Pengembangan komunitas tersebut tidak dibatasi durasi waktu tertentu melainkan terus berproses sampai sekarang. Dengan proses pengembangan komunitas demikian juga disebut dengan indigenous community development.

Proses pengembangan komunitas kemudian diikuti terbentuknya lembaga lokal dan diakuinya pemimpin informal komunitas. Pemimpin informal tumbuh dan berkembang melalui proses pengembangan komunitas. Karena berasal dari anggota komunitas sendiri. Pemimpin informal tersebut disebut sebagai pemimpin akar rumput (grass-root leader).

Perannya dalam pengembangan komunitas, terutama dalam kegiatan rehabilitasi hutan mangrove sangat penting, strategis, dan menentukan keberhasilan rehabilitasi hutan mangrovesampai mewujudkan hutan mangrove.

Pemimpin demikian menjadi aktor utama dan faktor terpenting dalam mewujudkan hutan mangrove. Bahkan menjadi ‘ruh’ atau ‘nyawa’ dari proses pengembangan komunitas sejak awal sampai terwujudnya hutan mangrove dan menjaga kelestariannya.

Dukungan komunitas disebabkan oleh hasil kegiatan pengembangan komunitas yang sangat bermanfaat bagi kehidupan seluruh anggota komunitas.

Secara teoretis, pelibatan pemimpin informal dalam proses pengembangan komunitas dapat menambah konsep teoretis model pengembangan komunitas yang ada. Model pengembangan komunitas dengan pelibatan pemimpin informal demikian dapat disebut sebagai strategi pengembangan komunitas berbasis kearifan lokal. Karena, berbagai strategi pengembangan komunitas yang ada belum menekankan pendekatan bottom-up, menggunakan sumberdaya lokal.

Salah satu sumberdaya lokal tersebut adalah keberadaan pemimpin informal komunitas. Pelibatan pemimpin informal dalam pengembangan komunitas dapat menambah model strategi pembangunan di perdesaan. Selama ini, pendekatan pengembangan komunitas masih bersifat top-down, karena terjadi atas stimulan pihak lain di luar komunitas.

Hasil studi mengenai pengembangan komunitas ini mempunyai implikasi praktis, yakni terkait praktik pengembangan komunitas yang selama ini dilakukan pekerja sosial komunitas. Dalam praktik intervensi, pekerja sosial komunitas perlu melibatkan unsur lokal, yakni pemimpin informal, agar praktik pengembangan komunitas yang dirancang dan diimplementasikan dapat mencapai keberhasilan.

Melibatkan sumberdaya lokal yang berasal dari komunitas lokal berarti memberikan peluang dan kesempatan komunitas untuk menentukan nasibnya sendiri. Meskipun demikian, dapat pula pekerja sosial komunitas bekerja sama dengan pemimpin informal guna mengakselerasi proses pengambangan komunitas.

Banyak kasus terjadi, masyarakat baru tergerak jika ada pihak luar yang memberikan stimulasi. Pekerja sosial dapat bekerja sama dengan pemimpin informal untuk memberikan stimulasi komunitas untuk menentukan tujuan pembangunan.

Saat ini, rasanya sulit muncul pemimpin informal yang di landasi kemampuan autodidak tertentu dan mampu menginisiasi terjadinya pengembangan komunitas. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemimpin informal di komunitas pesisir dapat dimunculkan dengan adanya persiapan tertentu.

Dalam rangka pengembangan komunitas, perlu ditumbuhkan dan diakselerasi munculnya pemimpin informal komunitas baru, melalui berbagai pelatihan keterampilan kepemimpinan dalam komunitas.Secara praktis, hutan mangrove dapat digunakan sebagai sistem sumber dari praktik pemecahan masalah komunitas.

Hal ini berkaitan dengan penggunaan sumberdaya lingkungan sebagai aset yang dapat digunakan dalam memberikan kontribusi terhadap pemecahan masalah sosial komunitas pesisir. Sistem sumber ini sesuai dengan praktik pekerjaan sosial komunitas dan perspektif kesejahteraan sosial yang menggunakan pendekatan ekologi manusia (green social workatau green social welfare).

Para ahli di bidang kesejahteraan sosial sekarang ini telah banyak menggunakan sistem sumber dari aset komunitas buatan dan alamiah untuk meningkatkan kesejahteraan sosial komunitas.

Biografi Penulis

Dr. Purwowibowo, M.Si Lahir di Trenggalek, 21 Februari 1959 , penulis menyelesaikan pendidikan S1 Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (Community Development) Universitas Jember pada 1983. Lulus S2 Program Studi Ilmu Lingkungan (Kekhususan Human Ecology/Ekologi Manusia) Universitas Indonesia pada 1994, berlanjut menempuh S3 Pengembangan Komunitas (Community Development) Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung dan lulus 2015.

Berbagai riset, penulisan karya ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, dan menjadi pemakalah dalam seminar dilakoni penulis sebagai bentuk pengakuan publik pada kompetensinya memberi sumbangsih pada negeri ini.

Dr. Soni Akhmad Nulhaqim, S.Sos., Msi adalah Staf Pengajar Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran sejak 1994 dan Ketua Ikatan Pendidikan Pekerjaan Sosial Indonesia (IPPSI) periode 2012-2014. Pria kelahiran Garut, 4 Februari 1968 ini sangat mencintai profesi pekerja sosial profesional.

Tertarik dengan buku karyanya atau buku-buku lainya, silahkan kunjungi website pandivabuku.com atau bisa pesan melalui nomer WA 085743899713, serta bagi yang menginginkan versi e-booknya bisa kunjungi laman ini “Hutan Mangrove Pasar Banggi Rembang“.