Sokoto-Nigeria, Operasi Pembebasan Sandera tanpa Kolaborasi yang Cukup

Kerabat Franco Lamolinara di bandara Ciampino, tidak jauh dari Kota Roma, saat pemulangan jenazah. (Foto: the Guardian)

Delapan tahun yang lalu, tepatnya 8 Maret 2012, Kota Sokoto, Nigeria, menjadi saksi penting upaya pembebasan sandera oleh pasukan khusus milik Angkatan Laut Inggris, The Special Boat Service (SBS), didukung Angkatan Darat Nigeria. Dua sandera, Chris McManus (warga Inggris) dan Franco Lamolinara (warga Italia) disandera pasukan sempalan Boko Haram yang didukung Al-Qaeda.

Isaiah Ekundayo Dada, dalam karyanya berjudul Interreligious Curriculum for Peace Education in Nigeria: A Praxeological Intervention for the Advanced Training of Religious Leaders (2019) memasukkan upaya pembebasan sandera tersebut ke dalam daftar kekerasan penting di Nigeria pada 1999-2015 bersama 44 kekerasan lain.

Pemberitaan the Guardian menyebut Chris McManus adalah seorang pekerja kontrak untuk perusahaan konstruksi ternama di Nigeria, B. Stabilini & Co. Ltd. Pada 2011, sekelompok pasukan bersenjata menyerbu apartemen McManus di Birnin-Kebbi, tepatnya sebelah barat laut Nigeria. Ia lantas disandera bersama Franco Lamolinara. Seorang rekannya, berkebangsaan Jerman, berhasil melarikan diri dengan memanjat tembok. Sementara seorang insinyur setempat, ditembak dan terluka dalam serangan itu.

Akhir 2011, al-Qaeda in the Lands Beyond the Sahel mengklaim telah menangkap McManus. Mereka merilis video ke agensi berita Nouakchott Mauritania untuk menyampaikan tuntutannya. Setelah mendapat persetujuan dari Perdana Menteri Inggris, David Cameron, operasi pembebasan sandera pun digelar pada 8 Maret 2012. Namun sayang, aksi ini berakhir dengan terbunuhnya sandera, lantaran dieksekusi oleh pada penyandera.

Upaya pembebasan sandera yang gagal tersebut mendapat respons kurang baik dari pemerintah Italia. Presiden Giorgio Napolitano menyebut operasi itu tanpa pemberitahuan kepada pemerintah Italia. Kabarnya, PM Cameron baru memberitahu Perdana Menteri Italia, Mario Monti, setelah kegagalan operasi yang berakhir tragis.

Akhir operasi pembebasan sandera di Sokoto yang berakhir tragis teramat disayangkan. Apalagi ternyata, komunikasi dua negara, yakni Inggris dan Italia, tidak lancar. Padahal, untuk berhadapan dengan para penyandera yang dapat setiap saat mengeksekusi sandera, dibutuhkan informasi dan kerja sama yang cukup.

Unique Challenge

Setahun sebelum upaya pembebasan sandera di Sokoto, saya memimpin operasi pembebasan kapal MV Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia bersama Satgas Duta Samudera. Secara taktis, operasi militer tidak serta-merta dilakukan, karena di sekitar Somalia ternyata banyak kekuatan militer internasional yang telah sejak lama tergelar.

Selain the Combined Maritime Forces (CMF), terdiri dari the Combined Task Force (CTF-151) yang khusus menangani perompakan (counter-piracy), CTF-150 untuk tugas keamanan maritim (maritime security), dan kontra-terorisme (counter-terrorism), serta CTF-152 untuk tugas pengamanan Teluk Persia, tergelar pula pasukan multinasional the European Union’s Naval Force (EUNAVFOR) Operation Atalanta, dan Standing NATO Maritime Group Two (SNMG2).

Saya lantas mengundang Komandan CTF 151/counter-piracy, salah satu TF utama dari CMF, ke KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355 untuk berdiskusi lebih dalam tentang situasi yang akurat serta penjelasan tentang misi Satgas Duta Samudera, karena memasuki perairan tanggung jawab mereka (Area of Operation Responsble-AOR).

Diskusi tentang situasi yang akurat serta penjelasan tentang misi Satgas Duta Samudera bersama Komandan CTF 151/counter-piracy di KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355. (Foto: Pandiva Buku)

Selama ini, ternyata belum pernah ada pasukan multinasional yang masuk ke Perairan Somalia. Mereka menyebutnya sebagai unique challenge. Apabila pembajak telah on board, mereka tidak diperbolehkan untuk ikut campur, karena membahayakan para sandera.

Membaca situasi ini, saya justru merasa memiliki kesempatan emas. Saya baru paham bahwa titik lemah mereka memang pada risiko politis, yakni sandera dapat dieksekusi oleh para perompak sewaktu-waktu, bila terjadi aksi tempur militer di bibir Pantai Somalia. Reputasi mereka sebagai pasukan multinasional dapat terusik, karena dapat dianggap ceroboh dalam menggelar misi pembebasan kapal, tanpa mempertimbangkan keselamatan sandera. Wajar kalau mereka sangat berhati-hati.

Saya lalu berkata kepada mereka bahwa Satgas Duta Samudera hanya akan membebaskan kapal MV Sinar Kudus berikut krunya. Artinya, tidak ada intensi lain. Dan itu merupakan national tasking Satgas Duta Samudera. Sebelumnya, mereka bertanya tentang intensi dan mandat Satgas Duta Samudera. Karena, mereka bertugas dengan salah satu mandat PBB untuk pengamanan Somalia Basin.

Meski secara teknis, sebenarnya saya hanya memerlukan izin dari beberapa pasukan multinasional yang telah beroperasi lebih lama di Somalia. Sisanya, saya dan pasukan saya yang akan memainkan peranan penting. Mereka menyetujuinya.

Kolaborasi

Semua lantas berjalan dengan cepat, tapi terkendali. Ketika saya membutuhkan informasi seputar keberadaan MV Sinar Kudus, mereka memberikannya dengan penuh kepercayaan. Pemberian informasi yang lengkap tersebut saya anggap sebagai konsekuensi keraguan mereka untuk masuk ke Perairan Somalia dan memercayakan aksi kali ini, hanya kepada Satgas Duta Samudera.

Saya juga intens bekerja sama dengan pasukan multinasional lain, tidak hanya CMF, yakni EUNAVFOR dan SNMG 2. Ketika berhubungan dengan SNMG2, karena kebetulan komandannya Commodore dari angkatan laut Belanda, dengan sedikit menggunakan bahasa Belanda, semua berjalan seperti yang diharapkan. Saya kemudian mendapatkan data terakhir yang saya butuhkan untuk menggelar aksi pembebasan kapal dan sandera.

Dari hasil koordinasi, diketahui bahwa kapal MV Sinar Kudus tengah berada di El-Danan. Secara taktis, saya telah memiliki skema terbaik menurut saya untuk beraksi. Setelah semua rencana selesai dan bersiap menyerbu, saya lantas berkomunikasi dengan Jakarta, untuk memastikan beberapa hal, terutama izin melakukan penyerbuan dan kepastian keberadaan sandera. Beberapa tahap kemudian, kapal MV Sinar Kudus pun dapat dibebaskan dan semua sandera selamat.

Dari pengalaman ini dapat ditarik pelajaran bahwa betapa penting kolaborasi untuk menuntaskan misi, terlebih operasi pembebasan sandera sangatlah kritis dan membutuhkan respons akurat, karena nyawa para sandera tengah dalam bahaya.

Ketika itu, bagi saya, selaku Dansatgas, selaras dengan pesan Presiden sebelum berangkat, yakni keselamatan sandera menjadi prioritas. Pelajaran lain yang lebih luas, sebenarnya kita memiliki masalah dan isu yang sama di laut. Kita tidak mampu menyelesaikannya sendiri. Kita harus bekerja sama. Hal tersebut sudah ditunjukkan oleh Satgas Duta Samudera saat membebaskan MV Sinar Kudus dari para pembajak Somalia.