Hadapi Serangan Covid-19, Jalur Laut Harus Tetap Aman

Salah satu armada patroli Badan Keamanan Laut (Bakamla), KN Pulau Nipah-321. PUSPEN TNI

Pandemi Coronavirus (Covid-19) merupakan bencana global. Pandemi tidak melihat ras, kekayaan, atau kekuasaan. Semua negara berjuang untuk menyelamatkan rakyatnya. Semua sumber daya dimobilisasi untuk menghadapi perang global melawan pandemi. Dunia benar-benar dihadapkan pada musuh baru yang belum pernah diperkirakan sebelumnya.

Transportasi laut memiliki peran yang sangat vital untuk memastikan makanan dan obat-obatan sampai ke tujuan. Upaya ini tidak mudah, dalam situasi yang mengharuskan semua orang untuk tinggal di rumah atau bekerja dari rumah. Namun, tanpa transportasi laut yang baik, ancaman krisis akan semakin dekat.

Tidak sampai disitu saja, kebijakan lockdown yang dilakukan oleh negara tetangga di kawasan menyebabkan eksodus para Pekerja Migran Indonesia (PMI) khususnya dari Malaysia. Situasi ini meningkatkan kerumitan pengendalian wabah, hal ini disebabkan karena terbukanya jalur masuk PMI melalui laut di sepanjang Selat Malaka.

Untuk mengantisipasi ini, Pemerintah telah menetapkan pelabuhan laut Tanjung Balai Karimun dan Batam sebagai pelabuhan resmi bagi eksodus PMI dari Malaysia. Protokol kesehatan akan diberlakukan ketat di pelabuhan resmi tersebut.

Lalu apa kontribusi coast guard? Badan Keamanan Laut (Bakamla), dalam hal ini. Sebagai Indonesia Coast Guard, tugas Bakamla secara universal mencakup keamanan maritim, keselamatan maritim, dan komponen cadangan dalam aspek pertahanan maritim.

Untuk mengamankan jalur transportasi laut di mana makanan dan obat-obatan sangat ditunggu, Bakamla akan terus hadir. Demikian juga dengan pengamanan terhadap eksodus PMI melalui ‘jalur tikus’, Bakamla bahkan telah menggelar Operasi Garda Lintas Batas untuk melaksanakan penyekatan terhadap PMI agar menggunakan jalur resmi dan menjamin semua eksodus PMI dari Malaysia untuk melewati protokol kesehatan yang ditetapkan. Bakamla fokus pada jalur-jalur tikus yang kerap dilewati secara ilegal.

Pengorbanan kru kapal dengan mempertaruhkan nyawa mereka selama pandemi, sejalan dengan upaya Bakamla untuk memastikan sampainya barang dan memastikan semua pekerja migran yang kembali ke Indonesia melakui protokol kesehatan, sehingga tidak membawa wabah ke kampung halamannya.

Kehadiran Bakamla mewakili kehadiran negara. Vitalitas transportasi laut dalam situasi pandemi sangat menentukan keberhasilan penanganan Covid-19. Tidak hanya selamat dari serangan pandemi, tetapi juga mengantisipasi masalah-masalah baru, seperti dampak ekonomi yang mengikuti.

Mari kita lihat misi Bakamla. Pertama, terwujudnya keamanan maritim nasional dan internasional yang mampu menjaga keamanan dan keselamatan di wilayah laut dan wilayah hukum Indonesia dan mewakili karakter Indonesia sebagai negara kepulauan.

Kedua, terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan menguatkan karakter sebagai bangsa maritim melalui Bakamla sebagai pengawal Poros Maritim Dunia.

Ketiga, realisasi Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, sangat maju, dan berdasarkan kepentingan nasional.

Kontrol atas laut bisa mewakili keberadaan negara yang bisa menyelamatkan rakyatnya dari serangan Covid-19. Maksudnya, menyelamatkan nyawa dengan didukung oleh makanan dan obat-obatan, dari keberhasilan logistik dan transportasi laut. Tindakan solid untuk keamanan laut yang memadai.

Upaya pemerintah Indonesia untuk menjadi negara maritim—populer disebut Poros Maritim Dunia—tengah menghadapi ujian untuk ke sekian kalinya. Mengamankan rute transportasi laut selama bencana global saat ini adalah bukti nyata bagaimana Indonesia memang layak disebut sebagai negara maritim.

Perjalanan Bersama

Indonesia dan negara-negara tetangga memandang ancaman keamanan laut sebagai masalah umum, tetapi sering menggunakan pendekatan yang berbeda untuk menghadapinya. Meskipun ada ketegangan di tingkat pemerintahan yang lebih tinggi, yang dibutuhkan adalah persepsi umum bahwa kerja sama itu penting bahkan ketika hubungan bilateral atau multilateral sedang dalam tekanan. Kerja sama bisa menjadi cara untuk membangun dan mempertahankan kepercayaan dan tujuan itu sendiri.

Di Indonesia tidak ada yang lebih penting daripada ikatan pribadi. Hubungan ini perlu dipertahankan secara konsisten, tidak hanya antara para pemimpin politik dan militer tetapi juga antara pejabat pemerintah tingkat bawah untuk membangun kepercayaan melalui pendekatan dari bawah ke atas. Ini membutuhkan interaksi yang erat dan konstan antara pembuat kebijakan tingkat strategis dan operasional. Oleh karena itu, ikatan pribadi harus mendukung proses konsultasi dan dialog formal untuk memberikan keseimbangan dalam hubungan dengan negara-negara tetangga.

Bakamla telah memiliki dan membina hubungan yang erat dengan Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM). Hal ini sangat membantu kedua pihak dalam mengamankan lalu lintas laut para pekerja migran. Kedua pihak secara rutin melakukan pertukaran informasi dan terus meningkatkan interaksi selama berlangsungnya pandemi.

Dihadapkan pada wabah global, kolaborasi antar-negara diperlukan. Kontribusi dengan saling membantu dan mencegah Covid-19 menyebar lebih jauh dapat dimulai dari mengamankan laut. Pada titik tertentu, keberhasilan melalui perang global melawan Covid-19 nanti merupakan hasil kerja sama yang baik antar-negara. Tak lupa, kontribusi para coast guard mereka.