Memahami Dampak Penutupan Pelabuhan Ningbo, Beranikah Mengubah Pola Pelayaran Kita?

Ilustrasi Sebuah kapal kontainer berlabuh di Pelabuhan Zhoushan di Ningbo. SCIO GOV

Ketika melihat situasi global dalam waktu beberapa belakangan ini. Risiko global meningkat secara eksponensial karena beberapa situasi yang terjadi dalam waktu dekat ini. Yang menyita banyak perhatian publik dan media massa, tentu adalah pergantian kekuasaan Afghanistan ke tangan Taliban dalam waktu sepuluh hari dan berita eksodus warga Afghanistan.

Pemberitaan di media massa hari-hari ini didominasi topik ini. indikasi beberapa topik akan dijadikan bahan bakar baru untuk perdebatan ‘warung kopi’ yang bisa diakselerasi menjadi perdebatan lebih luas, terutama di sosial media, dengan kubu-kubu aku dan kami, kami dan kita pun sudah mulai nampak.

Dari peringatan Asyura, Negara Islam, peran publik dan baju wanita di Afghanistan, tokoh politik Indonesia yang sempat menerima kedatangan pimpinan Taliban, dan masih terus akan bertambah sub topiknya ke depan. Jika tidak dikelola sesegera mungkin oleh otoritas Indonesia, tentu dampaknya membuat riuh suasana masyarakat kita, terutama di media massa.

Perdebatan yang meruncingkan berbagai topik bisa dikatakan sensitif karena terbukti mampu menciptakan segregasi dalam masyarakat kita yang dipicu dari perbedaan pilihan politik yang muncul dengan berbagai pameo: kadal gurun, cebong, kampret, dan sebagainya.

Di belahan dunia yang lain, tepatnya di Kawasan Perairan Asia Pasifik, wilayah pertumbuhan dan pemulihan ekonomi global saat ini, mulai terjadi kepanikan karena Terminal Meishan di Pelabuhan Ningbo-Zhoushan yang merupakan pelabuhan perdagangan terbesar ketiga dunia, mengalami penutupan karena terdapat pekerja pelabuhan yang terinfeksi Covid-19 varian Delta.

Otoritas China, tidak mau mengambil risiko terjadi outbreak lagi di wilayahnya, sehingga keputusan ketat diambil. Terletak di sebelah selatan Shanghai yang juga merupakan pelabuhan tersibuk pertama di dunia saat ini, penutupan Terminal Meishan ini tentu akan berdampak pada perdagangan global, mengakibatkan tertumpuknya kapal cargo, tanker dan vessel-vessel dari wilayah Los Angeles, West Coast, AS.

Pelabuhan Ningbo adalah gerbang utama perdagangan internasional China dengan West Coast AS dan juga pelabuhan untuk jalur pelayaran langsung China-Indonesia, dari Tanjung Priok Jakarta dan Tanjung Perak, Surabaya.

Bahkan, jalur pelayaran langsung Surabaya-China dengan Pelabuhan Ningbo baru saja diluncurkan pertengahan Oktober 2020 kemarin dan terbukti mampu memacu pertumbuhan ekspor nonmigas Indonesia. Sehingga pertumbuhan year on year kuartal II 2021 kita kemarin mencapai tujuh persen dan Indonesia selamat dari resesi.

Situasi kini mendadak berubah, arah angin tiba-tiba berubah dan kembali ada badai di lautan walau masih terkendali. Bloomberg memperkirakan situasi ini baru akan teratasi sekitar tiga bulan ke depan, artinya di kuartal III 2021 mendatang. Sedangkan kegiatan perdagangan bergerak setiap hari, jadi dapat dibayangkan penumpukan-penumpukan kapal yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini.

Bahkan Pelabuhan Shanghai mulai terdampak dengan waktu sandar kapal yang bertambah hingga menjadi enam jam. Jalur pelayaran global adalah alur riil uang, barang, dan jasa dari berbagai sektor industri yang mendorong perbaikan perekonomian global beberapa waktu ini.

Pelabuhan-pelabuhan China, sebagai pusat perdagangan global saat ini telah optimal. Risiko terdekat yang akan terjadi di Indonesia adalah arus bahan baku industri hingga kelangkaan kontainer ekspor. Jika hal ini tidak di mitigasi segera oleh otoritas Indonesia, tentu kegiatan produktif, termasuk ekspor sektor nonmigas yang menopang pertumbuhan Indonesia akan terganggu.

Terlebih jika kita melihat kapal yang menunggu izin berlayar di Tanjung Priok dan Tanjung Perak telah meningkat dalam sepekan ini. Dari program Maritime Silk Road, China secara agresif mengembangkan proyek seaport yang selalu dikombinasikan dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di wilayah-wilayah perdagangan kota lama berbasis peradaban Sungai Kuning dan Sungai Yangtze.

Sehingga sejak 2014, Pemerintah China telah membangun 14 pelabuhan baru dalam kerangka Maritim Silk Road. Di mana di antara Pelabuhan tersebut, adalah Pelabuhan Qingdao di Provinsi Shandong, China yang terletak di Delta Sungai Yangtze.

Menariknya, pelabuhan ini juga menjadi bagian dari perjanjian kesepakatan kerja sama pelayaran Indonesia-China-Belanda dengan alur yang disebut China Indonesia Sistem dengan titik pelabuhan: Pelabuhan Kuala Tanjung , Sumatera Utara- Pelabuhan Qingdao, China-Pelabuhan Rotterdam, Belanda.

Letaknya berada di utara Ningbo dan Shanghai, sangat dekat dengan Semenanjung Korea di Laut Kuning. Qingdao pun masuk dalam jajaran sepuluh pelabuhan perdagangan utama China.

Poinnya apa? Ship Follow Trade, rumusan ini tidak berubah dari sejak awal perjalanan manusia melintasi lautan dilakukan. Untuk menumbuhkan trade di suatu wilayah, apalagi wilayah baru, tentu tercukupinya ketersediaan barang dan jasa.

Skema Pelayaran Global

Berikut berbagai insentif menarik dan skema perdagangan yang kompetitif untuk suatu komoditas menjadi prasyarat mutlak, alias ekosistem komoditas terbentuk. Dari semua kebijakan itu, basisnya adalah market intelligence hingga analisis intermoda port to port hingga door to door yang eksisting.

Nah, kembali melihat apa yang akan terjadi ke depan terkait kegiatan ekspor-impor Indonesia, di mana China adalah mitra dagang terbesar kita saat ini. Jejak alur budaya dan jejak sejarah perdagangan Nusantara, menjadi modal yang sangat berguna untuk membaca arah pelayaran global.

Pelabuhan-pelabuhan tujuan yang memungkinkan kita tetap menjaga pasokan bahan baku industri dan ekspor komoditas agar kompetitif. Di sini, pola pengembangan kewilayahan, terutama KEK menjadi kebijakan tepat yang telah diambil Pemerintah Indonesia.

Akan tetapi arah pengembangan dan strategi kewilayahannya harus dikombinasikan sebagai ruang tumbuh sepuluh prioritas strategi Indonesia 4.0 terutama kebijakan mendesain ulang zona industri, membangun infrastruktur digital nasional dan perbaikan alur aliran material.

Tanpa tiga hal mendasar tersebut, KEK yang dikembangkan tidak menarik bagi investor, terutama di era industri hijau kini yang berplatform ESG (Environmental, Social, Governance). Jadi, KEK tidak bisa berkembang dengan semau kepala daerahnya.

Ada alur barang, jasa, dan uang besar yang harus dibaca dan dipahami hub-spoke-nya di mana saja. Selanjutnya terkait pengiriman komoditas dan impor bahan baku industri Indonesia, terkait kebijakan asuransi karena kondisi major Covid-19 ini misalnya, siapa yang akan menanggung? Bagaimana skemanya? Dibebankan pengusaha atau burden sharing Pemerintah-Swasta?

Mau tidak mau, suka tidak suka, berani berubah dan mengubah, termasuk memperbaiki tatanan kebijakan dan implementasi kebijakan terkait pengelolaan sumber daya dari sektor pertanian, kehutanan, energi dan kelautan. Dengan menyinergikan kebijakan perdagangan, perindustrian, dan bilateral dengan lokasi dan strategi kewilayahan yang jitu.

Sehingga akan mampu mengawal pertumbuhan Indonesia di kuartal III 2021 ini karena penutupan Terminal Meishan di Pelabuhan Ningbo. Tidak ada jalan pintas menuju Indonesia maju dan gemilang.

Tetapi, hal itu perlu kepemimpinan dan keterampilan membuat kebijakan taktis jangka pendek yang sesuai dengan arah pasar global dan membaca potensi riil kepulauan Indonesia saat ini, untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi kita dari sektor nonmigas.