Membaca Kearifan Lokal di Tengah Kehidupan Masyarakat

KKP Kenalkan Ragam Adat dan Sebaran Kearifan Lokal. KKP

Dalam sejarah pengelolaan perikanan di Indonesia, ia dimulai dari inisiatif masyarakat lokal dengan menggunakan pemahaman yang mereka punya (local knowledge or customary knowledge). salah satu para ahli seperti Berkes (1995) memberi pandangan bahwa pengetahuan tradisional atau lokal merupakan kumulatif pengetahuan dan kepercayaan (beliefs) secara turun temurun dari generasi ke generasi tentang kehidupan masyarakat terkait atau dalam tiap-tiap individu di suatu masyarakat, memiliki keterkaitan antara masyarakat dengan lingkungan.

Secara sederhana, pengetahuan lokal dipahami sebagai pengetahuan yang digunakan oleh suatu komunitas tujuannya untuk bertahan hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Sedangkan, perspektif Johnson (1992) mendefinisikan pengetahuan lokal dengan lebih detail menganggap bahwa pengetahuan dibangun oleh kelompok komunitas, diwarisi secara turun menurun, dan memiliki hubungan dekat dengan alam atau sumber daya alam.

Dalam praktiknya, pengetahuan lokal menurut Ruddle (2002) , tentang pengelolaan perikanan berbasis pengetahuan lokal (local knowledge) paling tidak memiliki empat ciri-ciri umum. Pertama, praktek ini telah berlangsung lama, empiris, dan dilakukan di suatu tempat (spesifik terhadap lokasi tertentu), mengadopsi perubahan-perubahan lokal, dan dalam beberapa hal lebih mendetail. Kedua, praktek ini bersifat praktis, berorientasi pada perilaku masyarakat, lebih spesifiknya dalam tipe sumberdaya dan jenis ikan tertentu dianggap sangat penting.

Ketiga, praktik ini bersifat struktural, memiliki perhatian yang kuat (strong awareness) terhadap sumberdaya dan lingkungan, sehingga dalam beberapa hal sesuai dengan konsep-konsep ilmiah ekologis dan biologis, misal dalam konteks konektivitas ekologis dan konservasi sumberdaya perairan. Keempat, praktek ini sangat dinamis sehingga adaptif terhadap perubahan dan tekanan-tekanan ekologis (ecological perturbations). Kemudian mengadopsi adaptasi terhadap perubahan tersebut ke dalam inti dari pengetahuan lokal yang menjadi basis bagi pengelolaan perikanan.

Sistem pengetahuan dan teknologi yang asli (indigenous) dianggap sebagai kearifan lokal (indigenous or local knowledge). Di dalamnya mencakup berbagai macam topik, seperti masalah kesehatan, pangan dan pengolahannya, pemeliharaan ternak, pengelolaan air bersih, konservasi, serta pencegahan hama, dan penyakit tanaman. Pada umumnya bentuk pengetahuan lokal berbentuk oral misal tradisi lisan, turun temurun yang berkembang di daerah pedesaan bahkan pedalaman yang terpencil. Pengetahuan lokal tidak dapat dipahami secara sistematis, dampak buruknya menyebabkan kepunahan atau ditinggalkan.

Pengetahuan lokal disebut sebagai bentuk kearifan masyarakat, dalam perkembangannya berbentuk perhatian para ilmuwan dan masyarakat yang mulai terarah pada upaya identifikasi, memahami, mendokumentasikan sistem pengetahuan, dan teknologi asli (indigenous knowledge). Kehadirannya bernilai dan mempunyai manfaat tersendiri dalam kehidupan masyarakat, setidaknya bagi masyarakat asli di suatu wilayah.

Para pakar banyak menyumbangkan pemikiran-pemikirannya dalam mendefinisikan Indigenous knowledge, seperti Grenier (1998) Indigenous knowledge dalam pandangannya berupa pengetahuan lokal tradisional yang unik. Ia berkambang dalam suatu wilayah tertentu. Pengembangannya mencakup semua aspek kehidupan, termasuk pengelolaan lingkungan alam yang telah terbukti mampu menjadikan masyarakat dapat berkembang dan tetap bertahan hidup.

Pengetahuan lokal sifatnya dinamis, dapat beradaptasi dengan sistem pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang secara dinamis. Tidak jauh berbeda dari pandangan Hadi (2009) pengetahuan lokal merupakan acuan bagi pengambilan keputusan tingkat lokal yang berkaitan dengan pertanian, pemeliharaan kesehatan, penyiapan makanan, pendidikan, pengelolaan sumber daya alam, serta berbagai aktivitas lainnya dalam masyarakat pedesaan.

Untuk mengetahui atau menelusuri pengetahuan lokal, kita bisa melakukan penelitian antropologi yang dapat menjangkau proses-proses, dampak dari interaksi manusia dengan lingkungan dalam tataran lokal. Kearifan masyarakat tradisional sebagai harta budaya yang tidak bisa diabaikan, juga sebagai kekayaan intelektual yang memiliki nilai yang sangat tinggi.

Kehadiran Pengetahuan lokal telah teruji selama berabad-abad, dan terbukti menjadi salah satu komponen penunjang keberlangsungan hidup suatu komunitas masyarakat. Dalam dunia modern dewasa ini, kearifan masyarakat tidak bisa luntur atau bahkan tidak bisa ditinggalkan, melainkan justru memerlukan perhatian serius, sehingga dilakukan berbagai upaya pelestarian.

Pranata Mangsa Bentuk Pengetahuan Lokal Masyarakat

Salah satu contoh bentuk pengetahuan lokal semisal pranata mangsa yang dipahami sebagai salah satu bentuk pengetahuan, teknologi lokal (indigenous knowledge), dan kearifan lokal (local wisdom). Kearifan lokal yang kita ketahui memiliki berapa sifat, ia bijaksana, penuh kearifan, dan bernilai baik. Gagasan konseptual yang hidup dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang secara terus menerus dalam kesadaran masyarakat, berfungsi mengatur kehidupan masyarakat dari yang sifatnya berhubungan dengan kehidupan yang sakral (keramat) sampai yang profan (duniawi).

Pranata mangsa dimaknai sebagai suatu sistem penanggalan pertanian di Jawa yang merupakan hasil dari pengamatan dan pengalaman mengakrabi dan menanggulangi kekuatan alam dan budaya, berdasar pada peredaran matahari dan memuat berbagai aspek fenomenologi, dan gejala alam lainnya. Pranata mangsa dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan usaha pertanian (bercocok tanam atau penangkapan ikan) maupun persiapan menghadapi bencana (seperti kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, banjir, gelombang atau ombak besar, pasang surut air laut, angin kencang, dan arus kuat) yang kemungkinan besarnya muncul dalam suatu waktu.

Dalam versi pengetahuan, pranata mangsa yang dipegang petani atau nelayan diwariskan secara oral (dari mulut ke mulut) oleh nenek moyang mereka, bersifat lokal dan temporal. Penulis memandang bahwa mayoritas nelayan menggunakan pranata mangsa sebagai pedoman untuk melaut atau memprediksi jenis ikan tangkapan.

Kemampuan memahami dan memperhatikan atau menandai (bahasa Jawa ‘Niteni’) perubahan alam tersebut merupakan cara yang cukup praktis dalam menyiasati dan memperkirakan musim penangkapan ikan maupun berbagai perubahannya. Sampai saat ini pranata mangsa tetap dipercaya oleh masyarakat setempat. Keyakinan besar dari mereka untuk tetap melestarikan warisan budaya leluhur.

Untuk meneliti kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat, penting mempertimbangkan beberapa hal, pertama, pranata mangsa dalam pengenalan waktu tradisional dikaitkan dengan kedudukan matahari, sedangkan matahari merupakan faktor penting dalam meteorologi. Kedua, Informasi tentang pranata mangsa relatif lebih banyak. Ketiga, pranata mangsa diketahui masih diinformasikan kepada masyarakat. Keempat, beberapa tahun kedepan pranata mangsa masih digunakan sebagai pedoma oleh masyarakat nelayan. Kelima, Mayoritas nelayan tradisional belum siap menerapkan teknologi maju dari inderaja (remote sensing).

Kehadiran Undang-undang Pelestarian Kearifan Lokal

Hal yang mendasari adanya kearifan lokal dalam bidang pengelolaan sumberdaya perikanan adalah UU RI No. 31/2004, yang disempurnakan UU RI No. 45/2009 tentang Perikanan, dalam pasal 6 ayat (2) Pengelolaan perikanan untuk kepentingan penangkapan ikan dan pembudidayaan harus mempertimbangkan hukum adat dan/atau kearifan lokal serta memperhatikan peran-serta masyarakat.

Posisi peran dan hak masyarakat adat tertuang dalam UU RI No. 27/2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, pada pasal 61 ayat (1) Pemerintah mengakui, menghormati dan melindungi hak-hak masyarakat adat dan kearifan lokal atas wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang telah dimanfaatkan secara turun-temurun.

Penegasan lainnya, juga tertuang dalam UU RI No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pada pasal 2 mengatur bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan berdasarkan asas kearifan lokal, dan pasal 70 ayat (1) dikatakan bahwa peran masyarakat dilakukan untuk mengembangkan, menjaga budaya, dan kearifan lokal dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Dari beberapa Undang-undang tersebut, telah mewakili kehadiran pemerintah dalam partisipasinya melestarikan kearifan lokal dalam suatu masyarakat di suatu wilayah. Indonesia dengan kekayaan budaya dan tradisinya penting mendapat perhatian serius, tujuannya menyelamatkan kekayaan budaya tersebut dari kepunahan. Masing-masing daerah memiliki budaya atau kearifan lokal yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *