Membaca Poros Maritim Indonesia Tahun 2045 Melalui SEKTI

Ajak Generasi Muda Wujudkan Indonesia Poros Maritim Dunia. KKP

Visi poros maritim dunia yang didengungkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2014 silam seakan membawa harapan baru untuk mengulangi kejayaan maritim Indonesia di masa lalu. Kejayaan maritim era Sriwijaya dan Majapahit yang tertulis dalam lembaran tinta emas peradaban Nusantara seakan kembali terulang di usia satu abad NKRI pada 2045 mendatang.

Visi maritim pemerintah saat ini menjadi fondasi yang kuat yang mengoneksikan lintas sejarah dengan masa yang akan datang. Terutama dalam perwujudan visi ekonomi yang terintegrasinya melalui program Tol Laut.

Secara alamiah, Indonesia terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Hindia dan Pasifik) telah menjadi titik persilangan dunia. Pusat perdagangan dunia itu telah menjadikan titik tumpu antara geopolitik dan geoekonomi, secara natural yang merupakan anugerah dari Tuhan YME.

Namun, terlepas dari given factor, daerah ini kerap menjadi perebutan bangsa-bangsa besar yang ingin menguasai dunia. Pameo, siapa yang ingin menguasai dunia harus kuasai Nusantara sudah terpatri jelas dalam guratan perjalanan sejarah sejak zaman Dinasti China, Portugis, hingga VOC yang semuanya berupaya menguasai kawasan ini.

Jauh sebelum Alfred Thayer Mahan (1840-1914) menggagas teori Naval Power dan Sea Power dalam bukunya The Influence of Sea Power Upon History 1660-1783, di Nusantara telah terjadi praktik-praktik penguasaan laut untuk menguasai jagad politik dan ekonomi kawasan.

Hal itu pula yang membuat penduduk Nusantara sekian lama ditipu untuk memunggungi laut. Awalnya, sejak era VOC menjajah di Indonesia tahun 1602 yang menaklukan imperium-imperium besar di Nusantara, kultur daratan yang menjauhi laut terus ditanamkan ke penduduk Nusantara hingga masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.

Praktis kehidupan perekonomian penduduk Nusantara pun selalu di bawah bayang-bayang kapitalisme Eropa. Akhirnya tatanan tersebut didobrak oleh Founding Fathers dengan mendirikan NKRI pada tahun 1945, di tengah kemelut peperangan Asia Timur Raya. Butuh waktu 12 tahun untuk menegaskan kedaulatan wilayah antara darat dan laut melalui Deklarasi Djuanda yang dikumandangkan oleh Perdana Menteri Djuanda pada 13 Desember 1957 lalu.

Deklarasi itu menjadi pijakan kuat NKRI menuju negara maritim yang besar melawan mindset daratan yang telah terbentuk selama berabad-abad. Sebelum akhirnya diperkuat kembali oleh visi Poros Maritim Dunia dan Tol Laut dari Preisden Joko Widodo di era kekinian.

Naik turunnya gelombang perjuangan menuju negara maritim dari masa ke masa itu ditulis secara komprehensif dalam buku ‘Reborn Maritim Indonesia: Perspektif Sistem Ekonomi Kelautan Terintegrasi’. Witjaksono, seorang penulis berusaha mengungkapkan setiap benang merah perjalanan maritim bangsa Indonesia dari sudut pandang pembangunan ekonomi yang terintegrasi melalui karya-karyanya.

Sesuai kapasitas sebagai ekonom muda, Witjaksono membedah integrasi dimensi sejarah, budaya, politik, dengan ekonomi. Bagaimana rekam pertempuran ekonomi global yang kemudian menjadi tantangan bangsa Indonesia saat ini, dapat terjawab dengan konsep Tol Laut, diulasnya secara detail dalam karyanya.

Indonesia Sentris dengan Tol Laut

Arah dari intisari pemikiran Witjaksono adalah tegaknya Indonesia sentris dengan Tol Laut untuk mencapai Poros Maritim Dunia tahun 2045 mendatang. Konektivitas perdagangan Indonesia yang diimplementasikan dalam konsep Tol Laut menjadi substansi dalam Sistem Ekonomi Kelautan Terintegrasi (SEKTI). Witjaksono yakin dengan sumber yang ditulis Indonesia Maritime Institute (IMI), bahwa kekayaan laut Indonesia dari tahun ke tahun mencapai 7.200 triliun jika dikelola dengan benar akan segera terwujud. Hal itu tidak terwujud, karena selama ini kita tidak memiliki konektivitas yang baik.

Di sinilah filosofi kata ‘SEKTI’, yang berasal dari Bahasa Jawa yang berarti ‘Sakti’. Harapannya, konsep ini akan menjadi senjata ampuh yang bisa melindungi kepentingan ekonomi kelautan dari seluruh aspek yang ada di seluruh Indonesia. Berdasar tujuannya memberikan keuntungan ekonomi sebanyak-banyaknya demi kemakmuran rakyat Indonesia, tidak hanya masyarakat pesisir atau kaum nelayan tetapi seluruh rakyat Indonesia.

Ia membedah dengan membeberkan data-data soal kekayaan minyak bumi, perikanan, garam, mutiara, mineral, pariwisata bahari, dan volume perdagangan melalui moda transportasi laut. Maka SEKTI hadir untuk memaksimalkan potensi tersebut. Sistem tersebut mengakumulasi luas wilayah laut Indonesia berdasarkan ZEE.

Keseluruhan potensi yang dimiliki saat ini dapat menjadi modal utama Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia pada tahun 2045 mendatang. Dalam karyanya, Witjaksono yang kerap tampil sebagai pemateri seminar di berbagai kesempatan terus menggelorakan optimisme khususnya di kalangan generasi muda.

Rakyat Indonesia harus menyambut baik visi Poros Maritim Dunia dan Tol Laut, untuk kemakmuran bangsa Indonesia. Kita dapat mengambil manfaat dari setiap potensi dan peluang yang ada dari visi tersebut dengan mengikis ‘Ego Sektoral’ yang mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Karakter ‘ngemis’ kepada asing juga disorotnya sebagai suatu penggembosan terhadap visi luhur tersebut. Mental ‘jongos’ dan pengkhianat sesuai yang dikutipnya dari buku Strategi Maritim Pada Perang Laut Nusantara dan Poros Maritim Dunia, juga menjadi batu sandungan yang berbahaya.

Keberhasilan VOC menguasai Nusantara dikarenakan mayoritas penduduknya bermentalkan karakter seperti yang tersebut. Wicaksono berharap bangsa ini tidak mengalami krisis mental di tengah berjalannya visi Poros Maritim Dunia. Beberapa gejala terkait maraknya ‘Ego Sektoral dan perpecahan di tengah masyarakat kita, terbukti telah mengganggu stabilitas negara. Tentu, dapat menyebabkan buyarnya visi kemaritiman Indonesia. Taktik itulah yang disenangi oleh bangsa asing guna menguasai Indonesia seperti dahulu kala.

Pada intinya, penulis menyampaikan problem solving dalam menghadapi permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya di bidang kemaritiman. Alangkah baiknya jika setiap elemen bangsa membangun Maritime Domain Awareness (MDA), yang di dalamnya mengandung software, hardware dan smartware dalam konteks strategi maritim nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *