Rekam Historis Budaya Maritim Suku Biak Papua

Tingkatkan Produksi Kelautan Indonesia. MARITIM

Rekam Historis tentang Irian Barat (Saat ini dikenal daerah Papua) dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tanggal 1 Mei 1963 bukan suatu peristiwa yang terjadi dalam waktu pendek. Fenomena tersebut sudah berlangsung selama ratusan tahun, sebelumnya ditinjau dari aspek sejarah dan antropologis.

Dalam tinjauannya, suku-suku di Irian Barat sudah lama menjalin ikatan dengan suku-suku lainnya di nusantara sehingga menumbuhkan ikatan yang erat dan membentuk bangsa yang bernama Indonesia. Hubungan korelatif dan kausatif antara orang-orang di Irian dengan daerah lainnya seperti Tidore, menjadi momentum spesial yang tidak terpisahkan dari rangkaian sejarah Irian Barat.

Biak merupakan salah satu daerah Irian Jaya (Papua), penghuninya kemudian disebut suku Biak. Saat ini menjadi objek yang tidak terpisahkan dari pola hubungan secara historis dan antropologis antara daerah Papua dengan daerah lainnya itu.

Permasalahan yang sering muncul seperti kaburnya pemahaman sejarah menyebabkan berbagai fenomena pemisahan diri kerap terjadi di Papua hingga saat ini. Hal itu disebabkan karena adanya perbedaan ras antara orang asli Papua (dari berbagai suku) dengan orang-orang di kepulauan Indonesia lainnya. Sehingga sekat itu menjadi penghalang bagi integrasinya orang Papua terhadap Indonesia.

Makna Bangsa Menurut Ir. Soekarno

Ir. Soekarno mengemukakan pandangannya tentang makna bangsa, merupakan sekumpulan manusia yang mendiami wilayah tertentu dan sebagai koreksi dari pemahaman bangsa menurut Ernest Renan dan Otto Bauer, di mana kedua ilmuwan asal Eropa itu memaknakan bangsa tanpa territorial yang mengikat bagi penghuninya (Sukarno, 1960:27).

Pandangan Ir. Soekarno itu tersebut, jelas kemudian bahwa pengertian bangsa sangat erat dengan wilayah yang didiaminya. Jika bangsa Indonesia, dari ujung pulau Sumatera sampai Papua (Sabang sampai Merauke) selama ada ikatan yang mengikat diantara penghuni-penghuninya itu maka tetap menjadi satu kesatuan. Dalam Pandangan Till, prinsip itu mengacu pada konsep geopolitik suatu bangsa yang menentukan dengan pola kebijakan pembangunannya.

Bangsa Indonesia yang lahir pada momentum Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 melalui Jong-jong pribumi yang menyatakan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa menjadi dasar ikatan persatuan. Wilayah Indonesia bagian timur yang lebih didominasi oleh Jong Maluku ternyata memiliki dua orang perwakilan dari Irian asal Serui. Serui merupakan daerah yang terdapat di Pulau Yapen dan bagian dari rangkaian kepulauan Biak Numfor.

Sejarah Suku Biak Papua

Dua pemuda Papua yang terlibat dalam peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, yaitu Poreu Ohee dan Aitai Karubaba. Poreu Ohee pertama kali muncul di internet pada tanggal 21 Agustus 2009, pada sebuah berita regional kompas yang berjudul Sejarah Papua dalam NKRI Sudah Benar. Dalam berita tersebut, terkait dengan Sumpah Pemuda, Ramses Ohee, seorang tokoh Papua mengatakan;

“Sayangnya, masih ada yang beranggapan bahwa Sumpah Pemuda tidak dihadiri pemuda Papua. Ini keliru, karena justru sebaliknya, para pemuda Papua hadir dan berikrar bersama pemuda dari daerah lainnya. Ayah saya, Poreu Ohee adalah salah satu pemuda Papua yang hadir pada saat itu.”

Sedangkan, nama Aitai Karubaba pertama kali muncul di internet pada tanggal 9 Oktober 2012, pada artikel di situs Kodam XVII Cenderawasih yang berjudul Terungkapnya Sejarah Orang Papua dalam berita tersebut Dandim 1709 Yapen Waropen Letkol. Inf. Dedy Iswanto disebutkan mengunjungi pusara Aitai Karubaba dan mengatakan,

“Terkait pernyataan seputar tidak adanya keterwakilan pemuda asal Papua dalam Ikrar Sumpah Pemuda, ternyata salah, sebab ternyata ada tokoh pemuda Papua yang terlibat langsung dalam ikrar sumpah pemuda di Batavia (Jakarta) 28 Oktober 1928 silam.”

Pihak keluarga yang diwakili oleh Yan Karubaba dan Pdt.Levinus Karubaba pun menyambut gembira pengakuan Dandim tersebut.

Namun, beberapa perhimpunan di Papua menyatakan informasi itu tidak benar. Seperti yang dilakukan oleh Perhimpunan Ilmuwan Papua Bidang Sejarah, yang membuat pernyataan.

“Secara jelas bahwa pada tahun 1969 baru adanya PEPERA berarti pada tahun 1928 Papua Barat masih merupakan salah satu wilayah Jajahan Hindia Belanda sehingga apa yang diklaim oleh Bupati, Kapolres, dan ketua KNPI Serui tidak benar. Oleh karena itu, Secara teliti telah kami lakukan penelusuran dan pengujian kebenaran tentang pernyataan yang telah disampaikan oleh Bupati, Ketua KNPI, Kapolres Serui pada bulan Oktober 2012, yang menyatakan bahwa telah ikut sertanya seorang anak muda papua bernama Aitai Karubaba dari Kampung Ambai dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, adalah suatu kebohongan Publik”.

Terlepas dari polemik diatas, penulis hanya ingin mengurai pemaparan berdasarkan aspek historis dan antropologis dari suatu ikatan kebangsaan dalam momentum Sumpah Pemuda yang terdapat inti secara abstrak, yaitu budaya maritim.

Budaya maritim yang dimaknai sebagai pola berfikir pemanfaatan laut untuk pemenuhan kebutuhan berdasarkan dasar keyakinan yang diyakininya, sehingga mengandung makna pendekatan rasa syukur yang tinggi dari manusia atas sang Pencipta. Hal itu menjadi landasan ikatan bersatunya berbagai suku di Nusantara dalam Sumpah pemuda.

Pendekatan itu dibuktikan dari adanya pola hubungan yang kuat antara suku-suku di Nusantara selama ratusan bahkan ribuan tahun melalui lautan sebagai medianya. Dalam konteks itu, aktivitas pelayaran dan perdagangan telah menjadi sarana dalam menumbuhkan ikatan saling kenal mengenal sampai dengan rasa persaudaraan yang tinggi diantara suku-suku pelaut.

Terjadinya perkawinan silang antara suku pelaut merupakan hal yang lumrah, mengingat paradigma laut sebagai pemersatu, bukan pemisah. Siapa pun yang bertemu di lautan merupakan saudara serta saling membutuhkan, terlepas apa pun kepercayaannya, suku, warna kulit, dan bahasanya.

Di Papua, kita mengenal suku Biak sebagai suku pelaut ulung dari timur Nusantara. Suku Biak, pelaut ulung yang berpengaruh besar terhadap daerah sekitarnya. Menurut catatan sejarah Kesultanan Ternate dan Tidore pernah menempatkan pelaut-pelaut Biak sebagai pasukan angkatan laut mereka. Hal itu terbukti dengan adanya gelar kapisa atau kapten, yang diberikan Sultan Tidore untuk para pelaut Biak. Kini, kapisa menjadi sebuah fam (marga) di Biak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *