Rekam Kisah Laksdya TNI Taufiqoerrachman, Satgas Duta Samudera Melibas Perompak Somalia

Komandan Satuan Tugas Duta Samudera, Kolonel Laut Achmad Taufiqoerrochman, memberikan arahan saat Operasi Pembebasan kapal kargo MV Sinar Kudus di perairan Somalia, April 2011. DISPENAL

Laksdya TNI A Taufiqoerrachman yang menjabat sebagai Wakil Kepala Staf TNI AL (Wakasal) pernah menuturkan pengalaman perjalanan karirnya selama mengabdi di matra bermotto Jalesveva Jayamahe. Sejak ia lulus AKABRI Laut pada tahun 1985 lalu, ada pengalaman yang tak pernah dilupakannya, ketika ia menjadi Komandan Satuan Tugas (Danstagas) Duta Samudera. Satgas tersebut mengemban sebuah misi pembebasan awak MV Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia pada Maret 2011 lalu.

Taufiqoerrachman menceritakan kisah itu di sebuah wawancara dengan Majalah Samudra di Mako Koarmabar pada 13 Juli 2016 lalu. Pada saat itu ia masih menjabat sebagai Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmbar). Perwira Tinggi TNI AL kelahiran Sukabumi 18 Oktober 1961 yang dikenal low profile dan murah senyum itu, dengan tenang menjawab semua pertanyaan secara detail kronologi peristiwa yang dialaminya. Berikut beberapa petikan wawancaranya.

Bagaimana Kronologis Kejadian itu?

MV Sinar Kudus pada saat itu merupakan kapal milik PT Samudera Indonesia dibajak di sekitar perairan Somalia oleh sekelompok orang bersenjata, pasca meninggalkan Salalah menuju Rotterdam via Terusan Suez pada tanggal 16 Maret 2011.

Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) setelah mendengar berita itu langsung menggelar Rapat Terbatas untuk penyiapan operasi pada 18 Maret 2011 lalu. Beliau mengumpulkan seluruh pimpinan TNI di Cikeas bermaksud menyiapkan kemungkinan terburuk bila negosiasi berjalan buntu. Saat itu pula, disusun Satuan Tugas yang diberi nama Duta Samudera. Pada waktu itu Taufiqoerrachman masih menjabat sebagai Dankolatarmabar yang kemudian langsung ditunjuk menjadi Komandan Satgas.

Taufiqoerrachman juga pernah berhasil memimpin pembebasan sandera di Selat Malaka pada tahun 2004 saat kapal tanker Pertamina dibajak oleh gerombolan bersenjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di waktu itu. Pada saat itu Kasal-nya adalah Pak Bernard Kent Shondakh. Ketika itu, Taufiqoerrachman menjabat sebagai Komandan KRI Satsuit Tubun-356 dipercaya untuk membebaskan kapal tersebut. Sesuai harapan, operasi berjalan dengan lancar. Namun ada sesuatu yang memberatkan di hati Taufiqoerrachman karena harus berhadapan dengan bangsa sendiri akibat perbedaan pandangan politik.

Pada tahun 2011 lalu, berkat pengalaman tersebut, Laksdya TNI kemudian dipercaya oleh pimpinan TNI untuk memimpin operasi lagi. Tentu hal tersebut berbeda dengan pengalaman di Selat Malaka. Alasannya, misi tersebut nyatanya membawa nama Indonesia di kancah internasional.

Setelah ditunjuk, Laksdya TNI Taufiqoerrachman kemudian mempersiapkan pasukan gabungan yang terdiri dari pasukan khusus dari TNI AD, AL, dan AU. Beberapa hari kemudian langsung berangkat menuju perairan Somalia dengan KRI Halim Perdanakusuma-355, dan KRI Yos Sudarso-353. Sementara perundingan antara pemerintah Indonesia bersama pihak PT Samudera Indonesia dengan pihak perompak Somalia masih dilakukan. Intinya pihak perompak meminta uang tebusan kepada pemerintah Indonesia.

Apapun keadaannya, sebagai seorang tentara harus selalu siap menghadapi segala kemungkinan dan kondisi apa pun yang akan terjadi. Urusan perundingan sudah seharusnya menjadi urusan pemerintah, tetapi urusan perang merupakan kewajiban tugas tentara. Namun, tentara tetap menunggu perintah dari pemerintah pusat di Jakarta untuk bertindak.

Berapa Lama Perjalanan dari Indonesia Menuju Perairan Somalia?

Kurang lebih dua minggu, para tentara berangkat tanggal 23 Maret 2011 lalu. Pada tanggal 4 April 2011 kemudian mereka telah sampai di Perairan Somalia. Hanya singgah sekali di Kolombo untuk mengisi bahan bakar. Namun karena belum ada instruksi dari pemerintah pusat, para tentara kemudian ditarik mundur ke Salalah, Oman sembari menunggu instruksi berikutnya.

Bagaimana Persiapan Pasukan Saat itu?

Selama dalam perjalanan, Taufiqoerrachman terus memerintahkan pasukan nya supaya tetap latihan. Sebagai tentara memang sudah seharusnya tidak mengenal kata ‘Tidak siap’. Seorang tentara harus siap menghadapi segala sesuatu yang terjadi. Tentu kondisi pasukan Laksda TNI itu jauh berbeda dibanding tahun 2004.

Untuk misi pembebasan MV Sinar Kudus, pasukan terbaik dari ketiga matra diturunkan. Di Salalah, para tentara hampir sebulan tinggal di sana. Sembari menunggu perintah dari Jakarta, para tentara terus memantau kondisi terakhir para ABK MV Sinar Kudus yang sedang disandera. Kami juga terus berlatih, karena hanya dengan latihan pasukan menjadi terbiasa dan terlatih dalam menghadapi segala kondisi.

Bagaimana dengan Kelanjutannya?

Pada akhirnya, pemerintah dan PT Samudera Indonesia menyetujui adanya uang tebusan yang diminta oleh para perompak. Kami hanya diperintahkan untuk mengawal proses penyerahan itu. Padahal sudah dikirim lagi satu KRI, yaitu KRI Banjarmasin-592 untuk tambahan kekuatan. Jadi ada tiga KRI yang ditugaskan dalam misi ini. Ketiga KRI pun tidak boleh mendekat dari tempat MV Sinar Kudus dibajak.

Setelah uang tebusan diberikan oleh pihak PT Samudera Indonesia, para tentara kemudian diperintahkan untuk menjemput dan mengawal MV Sinar Kudus. Setelah berhasil ditemukan, kemudian para tentara membawa pulang MV Sinar Kudus. Pada saat hendak menaiki kapal,ternyata ada perampok baru yang mencoba naik ke MV Sinar Kudus untuk membajak kapal tersebut.

Laksdya TNI A Taufiqoerrachman kemudian memerintahkan satu helikopter dan tiga sea rader untuk menyergap para perompak tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk langsung dieksekusi. Pasukan gabungan berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik tanpa ada korban dari pasukan tentara. Sedang perompak Somalia ada yang tewas enam orang saat penyerbuan, kira-kira dalam waktu 10 menit.

Jika bukan karena tugas, Laksdya TNI A Taufiqoerrachman senyatanya tidak tega untuk menghabisi nyawa para perampok. Ia memerintahkan pasukannya untuk tidak salah menembak orang kecuali musuh. Untungnya, semua tepat sasaran, keenam orang yang tewas itu benar-benar para perompak. Patut Kita kaji ulang latar belakang keadaan penduduk Somalia yang mayoritas masyarakatnya mengalami kemiskinan. Pemerintah negara itu lepas tangan terhadap ekonomi warga. Artinya alasan perompakan itu kemungkinan besar Karena faktor ekonomi yang tidak stabil.

Bagaimana Ending dari Peristiwa itu?

Ending dari perjuangan melawan perompak itu menuai keberhasilan, membawa pengaruh yang luar biasa terhadap TNI Indonesia di mata dunia. Para tentara sebagai wakil dari bangsa Indonesia telah membuktikan kehormatannya. Sejak saat itu kemungkinan besar negara lain akan berpikir dua kali bila memutuskan untuk berhadapan dengan TNI Indonesia.

Peristiwa telah usai, semua kembali ke tanah air. Namun, sebelum itu para tentara berkumpul di Salalah. Di tempat itu, Laksdya TNI A Taufiqoerrachman diminta untuk kembali dengan segera menuju Jakarta menggunakan pesawat. Hal yang tak terduga, Laksdya TNI A Taufiqoerrachman menyatakan bahwa ia tetap bersama anak buahnya, yaitu bersama KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355.

“Berangkat dengan KRI itu k

embali juga harus bersama kapal itu” jawabnya dengan tegas. Itulah prinsip Laksdya TNI A Taufiqoerrachman sebagai pimpinan, dalam keadaan apapun tetap bersama anak buah. Sesampainya di Jakarta para pasukan disambut dengan penghargaan oleh Presiden.

Ucapan selamat mulai mengalir, baik dari dalam maupun dari luar negeri kepada Laksdya TNI A Taufiqoerrachman. Sebagai seorang prajurit, beliau bersyukur karena bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Tentu bukan karena keinginan mendapat penghargaan atau pun kenaikan pangkat. Semua yang dilakukan oleh Laksdya TNI A Taufiqoerrachman itu demi baktinya terhadap tanah air Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *