Bung Karno, Sang Nakhoda Agung Negara Maritim

Bung Karno. BULELENGKAB

Sepak terjang pembangunan Indonesia tidak lepas dari peran Sang Proklamator, Bung Karno. Kendati tidak memiliki background wawasan pendidikan maritim di zamannya, murid H.O.S Tjokroaminoto itu dikenal sebagai sosok yang terpatri ocean leadership dalam jiwanya. Setelah menginisiasi Deklarasi Djuanda pada tanggal 13 Desember 1957 kemudian dilanjutkan dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Bung Karno menitikberatkan kemaritiman dalam pola pembangunannya.

Pada 23 September 1963, Bung Karno selaku Pemimpin Besar Revolusi menggelar Musyawarah Nasional Maritim pertama di sekitar Tugu Tani, Jakarta. Seluruh stakeholder maritim nasional hadir di acara tersebut untuk memberikan kontribusinya terkait arah pembangunan maritim. Di event itu pula, Bung Karno disematkan menjadi Nakhoda Agung NKRI yang mencita-citakan Nusantara menjadi negara maritim yang besar.

Hari itu pula, oleh Bung Karno diperingati sebagai ‘Hari Bahari Nasional’ yang terus diperingati setiap tahun oleh pemimpin berikutnya. Namun hari ini, peristiwa sejarah itu seakan tertelan bumi seiring berubahnya mindset pembangunan bangsa Indonesia.

Untuk mengingatkan kembali peristiwa tersebut, sekaligus sebagai sarana pembangunan karakter maritim untuk usia dini, Deputi IV Kemenko Maritim bekerja sama dengan RRI mengangkat kisah itu dalam sebuah sandiwara radio. Dalam agenda launching pertama kali pada 27 Februari 2017, episode pertama berjudul ‘Nakhoda Agung’ dipentaskan. Tokoh utama drama tersebut adalah seorang gadis bernama Dapunta. Nama tokoh yang diambil dari nama Raja pertama Kerajaan Sriwijaya, merupakan kerajaan maritim pertama di Nusantara.

Sekilas Kisah Nakhoda Agung ‘Bung Karno’

Pada di tahun 2017 beberapa tahun lalu, terdapat kisah hidup seorang gadis bernama Dapunta, wajahnya terlihat biasa-biasa saja, tingginya yang biasa-biasa saja, bahkan prestasinya pun biasa-biasa saja. Ia mendapat kiriman buku antik yang menyimpan kekuatan ajaib untuk dapat menembus lorong waktu. Dapunta yang membuka buku itu langsung mengeluarkan sinar dan dirinya pun tersedot ke dalamnya. Tiba-tiba, Dapunta yang tadinya berada di kamar kini berada di tepi pantai dengan penuh keheranan. Di tengah kesedihannya, ikan-ikan badut langsung meminta Dapunta untuk meniup sebuah kerang yang ada di hadapannya.

Beberapa saat kemudian, muncullah Dwarapala dari dalam kerang tersebut, sosok paman sakti yang bisa menjadi guide Dapunta yang memiliki buku itu. Dwarapala memberi tahu Dapunta bahwa saat ini ia sedang berada di negeri Dwipantara. Lalu buku itu bisa membawanya ke mana saja sesuai permintaan. Dapunta yang histeris mendengar kehebatan buku itu langsung terlintas untuk bertemu artis-artis luar negeri idolanya. Dari Justin Bieber, Adele, hingga Taylor Swift disebutkannya sebagai sebuah permintaan.

Tetapi, Dwarapala lebih memberikan signal untuk menemui orang-orang terdahulu. Sejenak Dapunta berpikir menemui neneknya, namun dirinya takut nantinya akan diminta berbelanja bumbu dapur oleh Sang Nenek. Dari bumbu dapur ia pun teringat akan ucapan gurunya di sekolah bahwa bumbu dapur atau rempah-rempah merupakan motif di balik penjajahan bangsa Barat kepada negerinya selama berabad-abad.

Dapunta sebagai sosok anak zaman sekarang yang tidak mempercayai begitu saja terhadap ucapan gurunya, segera bertanya kepada Dwarapala mengenai kejadian tersebut. Dwarapala pun membenarkan ucapan gurunya itu. Ia pun memberi tahu bahwa Presiden Soekarno juga sering menyebut hal itu dalam pidatonya.

Dengan buku itu, Dapunta meminta Dwarapala untuk mengantarkannya kepada Bung Karno. Dwarapala hanya berkata bahwa itu adalah hal yang mudah, Dapunta hanya diminta menaruh tangannya di huruf D sampul buku tersebut.

Praktis, Dapunta dan Dwarapala berpindah melalui lorong waktu. Tiba-tiba mereka hadir di suatu sidang Council For World Affair di Los Angeles, tepat saat Presiden Soekarno memberikan pidatonya. Dapunta takjub melihat Sang Bapak Bangsa berpidato di forum internasional. Ia pun baru sadar, ternyata saat ini dirinya berada di luar negeri, Los Angeles, AS. Ia menyesal karena tidak sempat membawa gadget untuk berswafoto.

Namun, Dwarapala hanya mengantarkan untuk menyimak pidato Bung Karno. Dalam pidatonya, penggagas Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945 tersebut mengatakan, bahwa Indonesia merupakan bangsa yang tua, sudah ada sebelum Columbus datang mencari rempah-rempah dan akhirnya menemukan benua Amerika.

Menyaksikan Bung Karno pidato, Dapunta seperti terkena hipnotis melihat kewibawaan Presiden RI pertama itu. Ketika sedang asyik-asyiknya mendengarkan pidato, tiba-tiba petir terdengar dari luar gedung. Dapunta pun diminta Dwarapala untuk cepat memegang buku itu. Dan tak selang lama, mereka berdua tersedot kembali ke dalam lorong waktu. Dwarapala menuturkan bahwa hal itu merupakan ulah Panglima Mentawai, sosok jahat yang ingin memiliki buku itu untuk menguasai dunia.

Kemudian, sampailah keduanya di sebuah tempat yang terdapat ondel-ondelnya. Dapunta shock, karena sudah berada di Jakarta kembali. Namun ada hal aneh yang terjadi dengan keberadaan dirinya di sekitar Tugu Tani itu. Banyak orang yang berkumpul di suatu tempat di sekitar kawasan tersebut. Ternyata mereka sedang menghadiri Musyawarah Maritim Nasional.

Di sana ia melihat Bung Karno sedang dikalungi bunga, simbol penobatan dirinya menjadi nahkoda agung. Nakhoda berarti pemimpin kapal, agung artinya besar dan mulia, jadi Presiden Soekarno adalah pemimpin besar bangsa ini, Nahkoda Agung bagi bangsa yang memiliki laut yang lebih luas dari daratannya atau istilah lainnya merupakan negara kepulauan yang bercorak bahari. Lokasi sebuah gedung yang berada di Jalan Prapatan, Tugu Tani tempat penobatan itu terdapat sebuah lukisan. Ketika Dapunta ingin mendekati lukisan tersebut, lagi-lagi Panglima Mentawai datang untuk memberikan ancaman. Dapunta langsung disambar oleh Dwarapala untuk segera bergegas meninggalkan tempat tersebut. Mereka kemudian memasuki lorong waktu dan akhirnya berpindah tempat.

Tiba-tiba Dapunta berada di kamarnya dan terdengar suara ibunya memanggil seraya menanyakan kegiatan Dapunta sudah membuat PR (Pekerjaan Rumah)? Itulah akhir dari episode pertama Drama Dapunta berjudul Nahkoda Agung, yang kemudian bersambung dengan episode-episode berikutnya terkait dengan cerita membangun kejayaan maritim Indonesia.