Keberhasilan KKP Menggagalkan Penyelundupan 1 Ton Sabu

Pemerintah Gagalkan Penyelundupan Narkoba. KKP

Beberapa kasus yang terjadi di wilayah maritim Indonesia, seperti penyelundupan narkotika, sabu dan lainnya menimbulkan banyak kerugian. KKP sebagai instansi yang berwenang dalam mengatasi kasus-kasus di wilayah perairan Indonesia harus siaga menjaga laut. seperti slogan yang sering diucapkan Ibu Susi ‘Tenggelamkan.’ Artinya ada upaya tegas untuk memberantas kasus-kasus kriminal yang menyalahi aturan yang berlaku.

Kerugian yang dialami oleh KKP tidak hanya kerugian materil, namun juga kerugian non material hingga saat ini menjadi tantangan KKP yang harus diemban untuk menyelamatkan bangsa dan negara. Salah satunya kasus kriminal seperti penyelundupan narkoba di wilayah perairan Indonesia.

Beberapa waktu lalu tahun 2018 tanggal 7 Februari, ketika itu TNI AL melalui Guskamlabar, KM Sunrise Glory berhasil ditangkap oleh KRI Sigurot-864 di Perairan Selat Philip pada pukul 14.00. Kapal ikan berbendera Singapura berkapasitas 70 GT yang diawaki oleh empat anggota berkebangsaan Taiwan itu kedapatan membawa satu ton sabu yang disimpan di bawah tumpukan karung beras.

Sejak akhir November 2017 lalu, Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan BNN dan TNI AL ketika itu menemukan bahwa kapal KM. Sunrise Glory merupakan kapal ikan buronan BNN yang telah dipantau. kapal tersebut mengangkut 1(satu) ton Narkotika jenis sabu dengan menggunakan dokumen perizinan SIPI palsu, ABK dan Nakhoda tidak memiliki sertifikat kecakapan sesuai keahliannya.

Kapal KM. Sunrise Glory waktu itu merupakan kapal buronan BNN, yang meminta bantuan TNI AL dan Satgas 115 sejak Desember 2017 lalu, saat kapal diperkirakan akan transhipment Narkotika jenis sabu di selatan Selat Sunda. Namun saat itu, kapal menggunakan track jauh di selatan mendekati batas luar ZEE dan dijejaki haluannya menuju Australia yang kemudian didapat info menurunkan muatan di Australia sejumlah 1.3 Ton. Kapal terus dijejaki yang akhirnya ditangkap KRI Sigurot-864 yang merupakan unsur patroli di bawah kendali taktis dan Guskamlabar.

Laksdya TNI A. Taufiqoerrochman yang juga merupakan Ketua Harian Satgas 115 ketika itu menyatakan ungkapan terimakasihnya atas penghargaan kepada seluruh personel KRI S-864, Pangarmabar TNI AL, BNN, dan Tim Analisis Satgas 115 atas keberhasilan penangkapan kapal tersebut. Berdasar prosesnya dibutuhkan kerja keras dan sharing informasi antara ketiga institusi tersebut.

Kapal ikan pembawa sabu ini dapat ditangkap. Pak Taufik menambahkan bahwa di masa depan tantangannya dalam tubuh anggota adalah kekompakan atau kerjasama memerangi kejahatan secara bersama-sama. Harapan lainnya, menjalin kerjasama dengan instansi lain, untuk memperkuat kekuatan memerangi kejahatan atau kriminalitas di Tanah Air.

Menurut Komandan Satgas 115 ketika itu menyebutkan bahwa Ibu Susi Pudjiastuti ketika menjabat sebagai Menteri sering mengingatkan kepada kita semua, bahwa seringkali modus penyelundupan narkotika melalui laut selama ini telah lama ada, terutama melalui kapal ikan, namun baru dapat ditangkap dengan jumlah besar (1 ton).

Lulusan AAL tahun 1985 tersebut menyatakan bahwa pelaku utama dalam upaya itu juga harus bisa diungkap dan dihukum seberat-beratnya sesuai dengan aturan yang berlaku. Hal itu supaya menimbulkan efek jera bagi siapa pun yang berniat menyelundupkan barang haram seperti narkoba ke Negara Indonesia.

Berdasarkan perintah dari Komandan Satgas 115, Tim Satgas 115 juga telah berangkat menuju Batam membantu BNN dan TNI AL melakukan pemeriksaan forensik digital, untuk menganalisis semua perangkat komunikasi digital yang ada di atas kapal untuk mengungkap kasus tersebut secara tuntas, dan pelaku utama (mastermind) dapat ditangkap dan diproses secara hukum.

Apresiasi Keberhasilan Penangkapan

Di tempat terpisah, keberhasilan penangkapan penyelndupan tersebut mendapat respons yang luar biasa dari berbagai kalangan. Mayoritas mereka mengungkap rasa salutnya atas kinerja aparat dan sinergitasnya dalam menyelamatkan generasi bangsa. Salah satunya adalah pengamat intelijen dan pertahanan, Susaningtyas NH Kertopati ketika itu menyatakan bahwa aparat telah menjalankan tugasnya dengan baik sesuai arahan Presiden Joko Widodo. Hal itu menunjukkan bertambah kuatnya sinergitas antara aparat keamanan. Komitmen antara pimpinan TNI dan Polri serta instansi lain yang berwenang untuk memberantas peredaran Narkoba semakin intens sesuai instruksi presiden yang menyatakan Indonesia Darurat Narkoba.

Mantan anggota Komisi I DPR RI tersebut berharap agar kerja sama dan sinergitas di masa mendatang tetap terjalin dan bahkan lebih baik lagi, guna mewujudkan keamanan di laut. Hal itu pun berangkat dari pentingnya Network Centric Warfare (NCW) sebagai sistem komando dan pengendalian yang fokus pada penggunaan teknologi informasi mutakhir dan berbasis komputer pada kapal, pesawat, pangkalan, dan satuan lainnya yang terintegrasi dalam satu sistem komputer atau digital.

Sehingga kesatuan data dan informasi di setiap instansi memiliki kesamaan dan kesatuan, sekaligus dalam operasinya. Konsep NCW dikenal juga sebagai technical intelligence, yakni metode pengumpulan informasi melalui penggunaan teknologi untuk menghasilkan current intelligence/real-time intelligence dalam model keamanan maritim. Dimensi informasi telah dimasukkan sebagai dimensi penting dalam strategi pertahanan dan keamanan negara, selain dimensi darat, laut, dan udara.

Oleh karena itu, NCW sebagai perwujudan ‘Single Agency Multi Task’ yang terintegrasi, efisien dan terpadu memudahkan koordinasi dalam pengumpulan data (data gathering) dan respons terhadap ancaman, menjadi penting dalam konteks penguatan intelijen maritim Tanah Air.

Ibu Nuning menambahkan bahwa para pemangku kebijakan harus menghindari adanya ego sektoral. Melakukan transformasi Intelijen AL (Naval Intelligence-red) yang terbatas pada dimensi pengamanan dan sektoral, menjadi Intelijen Maritim yang punya kemampuan menyediakan informasi menyeluruh kepada pemangku kepentingan maritim nasional di lintas sektoral, termasuk BNN. Konsep tersebut bisa diterapkan oleh Satgas 115 dengan tujuan memberantas kriminal-kriminal IUU Fishing yang merugikan negara. Poin penting menyukseskan konsep tersebut yaitu Integrasi dan penghilangan ego sektoral menjadi kata kunci keberhasilan dalam operasi pengamanan di laut.