Kerja sama KKP dengan Instansi Lain Atasi Kasus Penyelundupan

Petugas Gagalkan Penyelundupan. KKP

Seiring berjalannya visi ‘Poros Maritim Dunia’, ancaman demi ancaman melanda dan menghantui bangsa Indonesia tidak kunjung usai. Terutama ancaman transnational crime dari IUU Fishing, trafficking, penyelundupan narkoba dan barang lainnya, terorisme, serta kejahatan-kejahatan lainnya yang masuk atau keluar melalui laut dan bandara.

Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo sering mewanti-wanti agar ancaman-ancaman tersebut harus diminimalisir seoptimal mungkin, atau bahkan dihilangkan sama sekali. Menanggapi arahan tersebut, pihak aparat keamanan dan kementerian terkait bekerja bahu-membahu mencegah dampak kerugian negara baik secara material maupun non material.

Termasuk jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang tidak henti-hentinya melakukan koordinasi dan sinergitas dengan instansi lain mencegah tindakan-tindakan tersebut. Sejak dipimpin oleh Susi Pudjiastuti ketika itu, beberapa catatan prestasi berhasil ditorehkan oleh KKP dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Mulai dari berkurangnya praktik IUU Fishing, penyelundupan narkoba, dan perbudakan di laut, menjadi torehan emas rekan jejak KKP dalam visi ‘Laut Masa Depan Bangsa’.

Salah satu catatan prestasi tersebut, beberapa waktu lalu KKP pernah berhasil menyelamatkan puluhan miliar potensi kerugian negara melalui penggagalan penyelundupan 86.489 ekor benih lobster yang rencananya akan diberangkatkan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Hal itu tentunya disebabkan kerja sama yang massif ketika itu antara Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP); Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan; Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri; dan Aviation Security (Avsec) Bandara Soekarno Hatta (Soetta).

Tim Balai Besar KIPM Jakarta I bersama Avsec Soetta ketika itu menemukan satu unit koper berisi 14.507 ekor benih lobster bernilai Rp2,9 miliar yang dikemas dalam 32 kantong di Terminal 2D Keberangkatan Internasional. Berdasarkan penemuan tersebut, kemudian dilakukan pemeriksaan lanjutan dan kembali ditemukan empat unit koper lainnya berisi 71. 982 ekor benih lobster yang dikemas dalam 193 kantong. Benih lobster senilai hampir Rp14,4 miliar tersebut ketika itu dimuat dalam pesawat Lion JT 0162 yang akan diberangkatkan ke Singapura.

Barang bukti dan empat orang kurir, yaitu YYA, AJ, PF, MRW, serta seorang pengendali berinisial PMW diperiksa lebih lanjut oleh Bea Cukai Soekarno-Hatta berkoordinasi dengan BKIPM dan Bareskrim Polri. Para pelaku terancam hukuman sesuai pasal 102A huruf a Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Kepabeanan dengan pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama 10 tahun, serta denda paling sedikit Rp. 50 juta dan paling banyak Rp. 5 miliar.

Ibu Susi Pudjiastuti ketika masih menjabat sebagai Menteri KKP, saat itu memberi apresiasi tinggi atas sinergi yang baik antara instansi pemerinta dalam menggagalkan penyelundupan benih lobster. Menurutnya, jika benih lobster tersebut dibiarkan tumbuh besar maka akan menjadi sumber penghasilan yang lebih besar bagi nelayan.

Benih lobster termasuk dalam jenis hewan laut yang dilarang penangkapannya berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor: 56/PERMEN-KP/2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus Pelagicus spp.) dari wilayah Republik Indonesia.

Ibu Susi ketika itu juga menyatakan bahwa bibit lobster belum bisa dikembangbiakkan (secara alami). Sebisa mungkin untuk tidak mengulang kesalahan ikan sidat yang punah karena glass eels-nya (benih sidat), dahulu diizinkan untuk diekspor serta untuk budidaya. Akhirnya terputuslah mata rantai kehidupan ikan sidat tersebut. Hingga saat ini, ikan Sidat tersebut sulit ditemukan baik di laut maupun di muara. Kesalahan tersebut harus di catat betul oleh pemerintah untuk memeprtimbangkan kembali kebijakan-kebijakan melindungi ekosistem laut menjaga kekayaan alam di Laut untuk kita nikmati bersama saat ini hingga masa depan.

Ibu Susi tidak ingin hal yang sama terjadi pada stok lobster yang sekarang mulai mengalami penurunan akibat eksploitasi ekspor benih lobster secara besar-besaran. ia menyatakan bahwa dahulu di daerahnya, Cilacap Gombong, pelabuhan Ratu, Daerah Jawa Timur Pacitan setiap daerah tidak kurang satu ton sehari (tangkapan lobster). berbeda dengan saat ini yang jika melihat lobster 50 kg sudah (terbilang) banyak.

Menurut Ibu Susi, larangan penangkapan dan ekspor benih lobster tersebut dilakukan untuk melindungi keberlanjutan stok lobster dan meningkatkan nilai tambah ekonomi melalui nilai ekspor lobster dewasa yang bernilai jauh lebih tinggi. Jika benih lobster terus dieksploitasi, ia khawatir lobster bisa punah dari perairan Indonesia.

Kemungkinan yang terjadi Bangsa Indonesia jika ingin mengonsumsi lobster harus impor dari negara luar. Saat ini pun sering terdengar keluhan masyarakat Indonesia yang tidak kuat makan lobster karena terlalu mahal harganya. Satu kilogram lobster bisa sampai satu juta, yang hijau 500 ribu, dagingnya cuma 50 persen dari besar cangkangnya. Jadi daripada makan lobster satu kilo mending makan ayam 10 kg, atau ikan dapat 20 kg. perbandingan tersebut sering terdengar, artinya bangsa Indonesia mulai kesulitan menikmati lobster dengan harga terjangkau.

Sebagai informasi, sejak awal 2018 hingga 22 Februari 2018 lalu, KKP bersama kementerian atau lembaga terkait telah menggagalkan 12 kasus penyelundupan benih lobster dengan perkiraan potensi kerugian negara sekitar Rp. 49,3 miliar. Adapun rinciannya lima kasus di Surabaya, tiga kasus di Bandara Soekarno Hatta, dua kasus di Bandara Ngurah Rai Denpasar, satu kasus di Jambi, dan satu kasus di Bandara Internasional Lombok, dengan jumlah tersangka sebanyak 20 orang. Kemudian sebanyak 77 kasus penyelundupan benih lobster juga berhasil digagalkan sepanjang tahun 2017 lalu dengan menyelamatkan negara dari kerugian sebesar Rp. 336 milyar lebih.