Meluruskan Visi Ketatanegaraan Laut Masa Depan Bangsa

Indonesia Side. OCEANWEALTH

Pada acara Bedah Buku yang bertema ‘Laut Masa Depan Bangsa’ bersama Ibu Susi Pudjiastuti ketika itu di Ballroom Mina Bahari III beberapa waktu yang lalu, disampaikan juga pembahasan terkait pencapaian KKP yang erat kaitannya dengan visi Poros Maritim Dunia.

Acara yang dikemas dalam nuansa santai, Ibu Susi terlihat rileks menyampaikan garis besar isi buku. Saat itu acara dipandu oleh Aviani Malik yang juga menghadirkan para penanggap dari beberapa kalangan. Di antaranya Rhenald Kasali selaku Guru Besar UI, ekonom Faisal Basri, Rektor UGM Dwikorita Karnawati, Budayawan Jaya Suprana, dan Mahfud MD selaku pakar hukum dan orang yang lama berkecimpung di pemerintahan.

Diawali dengan tembang ‘Rayuan Pulau Kelapa,’ acara bedah buku tersebut berjalan dinamis. Dalam sambutannya mengawali diskusi, Ibu Susi menyatakan apa yang dilakukannya tertera dalam isi buku tersebut sesuai dengan arahan Presiden. Di bawah kepemimpinannya, KKP mengimplementasikan visi Poros Maritim Dunia menjadi program yang menyangkut tiga aspek yakni kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan.

Lebih awal lagi, Menteri Susi menceritakan awal ketika memimpin institusi. Ia pun membangun suasana dan pola kerja yang hampir sama di perusahaan. Sebagai pembantu presiden ia menempatkan diri sebagai CEO, di mana semua direkturnya bekerja sama untuk memajukan perusahaan.

Selama 30 tahun berkecimpung di dunia perikanan, Ibu Susi sudah sangat paham seluk beluk sisi kelautan Indonesia. Menurutnya, waktu lima tahun yang pernah dijalani dalam membenahi kelautan Indonesia dirasa tidak akan cukup mengingat begitu kompleksnya permasalahan. Namun dengan pembawaannya yang membaur dengan semua kalangan, dukungan demi dukungan pun mengalir tiada henti. Banyak pihak meyakini bahwa Menteri Susi mampu menjalankan tanggung jawab tersebut dengan sukses serta gemilang.

Sejak zaman Ibu Susi menjadi Menteri kelautan ketika itu istilah ‘tenggelamkan’ akhirnya menjadi viral di berbagai jagad media sosial. Praktik IUU Fishing pun menurun drastis. Sosoknya pun menjadi buah bibir di berbagai media dan beberapa kalangan. Keberhasilan demi keberhasilan yang diimplementasikan dalam wujud kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan itu semakin menempatkan visi Poros Maritim Dunia mendekati pencapaiannya.

Respons Para Tokoh, Mahfud MD

Hal menarik dari paparan para penanggap buku ‘Laut Masa Depan Bangsa’ ialah kesan-kesannya kepada figur Ibu Susi. Selain menyoroti program kerja ketika itu, mereka juga banyak yang menyoroti gaya kepemimpinannya dalam sudut pandangnya masing-masing. Tanggapan yang sarat dengan visi ketatanegaraan Indonesia adalah apa yang disampaikan oleh Mahfud MD dalam ulasannya. Mantan Menteri Pertahanan RI dan Ketua MK ini menyebut bahwa tanggung jawab yang dijalankan oleh Ibu Susi sesuai dengan amanat para pendiri negara yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.

Pak Mahfud menyatakan dalam tanggapannya “Kedaulatan itu merupakan hal yang penting bagi suatu negara dan tertuang di dalam alinea 2 Pembukaan UUD 1945.”

Dengan tegas Pak Mahfud MD menyebutkan kembali naskah lengkap alinea kedua dalam Pembukaan UUD 1945 yang dihafalnya di luar kepala.

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur,” ulas dia dengan menyebut kata ‘Berdaulat’ secara berulang-ulang.

Paparan pria asal Madura itu diawali dengan kritik terhadap buku tersebut yang menurutnya sekilas seperti brosur. Gegap tawa pun memenuhi seluruh Ballroom ketika Mahfud menyebut demikian. Tetapi ia pun memuji isi buku tersebut sesuai dengan yang dikatakannya, menjawab kegelisahan kita selama ini kendati banyak dipenuhi gambar. Namun itulah, trend buku di era millenial saat ini, di mana gampar terkadang lebih mendominasi ketimbang naskah.

Orang terdekat Gus Dur tersebut sudah sejak lama juga memiliki kepedulian terhadap dunia maritim. Sejak kepemimpinan Gus Dur di tahun 1999 waktu itu, gagasan negara maritim Indonesia sudah diprogramkan oleh cucu pendiri Nahdlatul Ulama tersebut. Salah satunya ialah, berdirinya Departemen Eksplorasi Laut yang merupakan cikal bakal dari KKP.

Selain itu, di era Gus Dur juga didirikan Dewan Maritim Indonesia yang bertugas untuk merumuskan konsep kemaritiman bangsa Indonesia kedepannya. Penetapan Hari Nusantara Pada tanggal 13 Desember juga digaungkan selalu di era tersebut guna mengenang Deklarasi Djuanda tahun 1957 yang menjadikan laut sebagai alat pemersatu sekaligus kedaulatan politik dan ekonomi.

Mahfud MD termasuk orang yang berada di sekitar pusara kekuasaan pada masa itu. Diberi amanat sebagai Menteri Pertahanan, jebolan HMI Yogyakarta ini sudah menyorot maritim, sebagai kekuatan pertahanan kita. Mengingat untuk pertama kalinya sejak masa Orde Baru, Panglima TNI di masa Gus Dur berasal dari TNI Angkatan Laut yakni Laksamana TNI Widodo AS. Menurutnya bahwa wilayah Indonesia dua pertiganya merupakan laut. Pada saat Pak Jokowi baru dilantik jadi Presiden tanggal 20 Oktober 2014 lalu, ia menyebut berkali-kali dan ramai di media bahwa kita tidak sepantasnya memunggungi laut. Kita harus menghadap laut.

Kendati pemerintahan Gus Dur tidak berlangsung lama, namun segala yang telah dirintis olehnya dahulu bisa menjadi pijakan untuk membangun Poros Maritim Dunia saat ini. Boleh jadi, konsep Gus Dur tersebut telah menginspirasi Jokowi dalam membangun negara maritim.

Memaknai Kembali Kedaulatan

Mahfud MD menyepakati terkait konsep kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan yang diemban oleh KKP. Kedaulatan baik secara politik maupun ekonomi sangat penting sekali dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Begitu juga dengan keberlanjutan, yang menurut Mahfud telah tertera jelas maknanya dalam Pasal 33 UUD 1945. Ketika itu Mahfud juga mengingatkan kembali memori kejadian tahun 2012 di sekitar Selat Malaka. Saat itu Polair kita yang menghadang perompak dari Malaysia justru dibawa ke Kuala Lumpur supaya diserahkan ke pemerintah Malaysia. Ia pun tak habis pikir dengan kejadian di era Presiden SBY ketika itu.

Mahfud pun menyindir diplomasi Indonesia saat itu masih terkesan ‘lembek’ terhadap negara tetangga. Sehingga kedaulatan Tanah Air menjadi taruhannya. Hal inilah yang harus dibenahi oleh pemerintah terkait problem yang pernah terjadi. Artinya harus ada evaluasi pad setiap kejadian meski telah berlalu, sebagai masukan atau kontribusi positif di masa depan untuk langkah preventif.

Dengan logat khas Maduranya, Mahfud MD menyebutkan konsep Trisakti Bung Karno yang digunakan lagi oleh Jokowi ketika itu, berisikan berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian kebudayaan sangat ampuh untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Konsep ini koheren dengan gagasan Ibu Susi ketika itu terkait problem keberlanjutan dan kesejahteraan. Terbukti peningkatan penegakan hukum di laut yang berdampak pada keberlanjutan sudah menemui polanya.

Mewujudkan Bangsa Berbudaya Bahari

Perubahan budaya bangsa yang kian lama semakin meluntur atau jauh dari jati diri bangsa. Hal itu bukan hal baru lagi,bahkan dimulai sejak zaman pengaruh VOC. Bangsa Indonesia bisa juga diramal tidak akan maju jika tidak menguasai lautan atau berkarakter bahari. Kini semangat Bahari yang telah lama padam harus dihidupkan kembali melalui visi Poros Maritim Dunia.

Dalam fenomena demokrasi yang akhirnya sarat dengan perpecahan dan kecurangan, Mahfud MD memandang hal itu ada kaitannya dengan bergesernya budaya bahari ke budaya kontinental. Selanjutnya, dalam budaya bahari dikenal prinsip egaliter dan sportif serta kerja keras dan penuh keterbukaan. Hal tersebut sudah dibuktikan oleh nenek moyang bangsa Indonesia yang sebagian besar adalah pelaut.

Dalam budaya bahari dikenal pula dengan prinsip egaliter yang ditandai dengan laut yang datar. Sedang dalam budaya politik juga erat kaitannya dengan budaya bahari, di mana gotong royong dan kebersamaan menjadi ciri yang erat dari masyarakat pesisir. Harapan besar di era Presiden Jokowi sampai saat ini budaya bahari tumbuh kembali semakin pesat disertai semangat yang tinggi menuju kesejahteraan laut, dan mampu membawa Indonesia pada masa kejayaannya.