Membentuk SDM Matra Laut yang Berkompeten

Menko luhut Terima Taruna Taruni Angkatan Laut. MARITIM

Peran lembaga-lembaga pendidikan pada TNI AL dalam perkembangannya sudah berjalan lebih baik dari tingkat bawah hingga ke atas. Mulai dari pendidikan Tamtama, Bintara, dan AAL (yang dikhususkan untuk mencetak perwira) sampai kepada Seskoal dan Kobangdikal. Seluruhnya sudah memiliki komitmen sesuai dengan prinsip yang ada. Namun dalam aspek membangun keilmuan tentunya perlu dikembangkan secara lebih masif lagi. Dalam hal itu, Seskoal memiliki peran yang lebih besar dibandingkan dengan dinas-dinas lainnya di tubuh TNI AL.

Seskoal memiliki Pusat Kajian Maritim (Pusjianmar) yang seharusnya bisa dioptimalkan sebagai think tank pembangunan maritim Indonesia dengan melibatkan lintas institusi baik sipil maupun militer. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Sea Power Center- Australia. Dari wadah tersebut tentunya sangat berguna dalam menciptakan produk-produk pemikiran dari hasil penelitian dan kajian yang dilakukan oleh prajurit matra laut.

Kajian yang holistik bisa semakin masif dilakukan dengan dilandasi doktrin dan Trisila TNI AL yang berisi disiplin, hierarki, dan kehormatan militer. Naskah doktrin TNI Angkatan Laut (AL) telah disahkan oleh Panglima TNI dengan Surat Keputusan Nomor Kep/503/V/2018 tanggal 22 Mei 2018 tentang Doktrin Jalesveva Jayamahe.

Seiring perkembangan teknologi informasi dan dinamika lingkungan strategis, doktrin “Eka Sasana Jaya” telah disesuaikan dengan globalisasi yang mendorong perubahan konflik, peningkatan daya hancur senjata, kecanggihan sistem kendali, serta musuh yang membaur dan tidak terlihat.

Hal itu sebagaimana diungkapkan oleh Asrena Kasal Laksda TNI Arusukmono Indra Sucahyo ketika itu, tepat pada saat sosialisasi Doktrin Jalesveva Jayamahe. Ia menyatakan bahwa perubahan itu akan mengubah cara-cara bertempur, serta cara-cara dalam melaksanakan tugas-tugas TNI AL agar lebih efektif dan efisien. Karena Doktrin “Jalesveva Jayamahe” merupakan bentuk revisi Doktrin “Eka Sasana Jaya” yang disusun untuk memenuhi tuntutan perkembangan zaman.

Dengan trend ancaman yang bukan lagi bersifat tradisional tapi non tradisional (asymmetric warfare), maka prajurit matra laut juga dituntut sebagai pemikir dan pencipta inovasi. Dalam menuju ke arah itu, bisa dicapai dengan kompetensi yang tinggi melalui kajian yang intensif.

Hingga kini sudah banyak purnawirawan yang bertebaran dalam mengisi jabatan sebagai konseptor kemaritiman Indonesia. Banyak pula yang sudah bergelar master, doktor dan profesor. Begitu pula para prajurit aktif yang memiliki gelar-gelar tersebut juga terus meningkat. Selain itu sudah banyak juga yang aktif menulis buku, jurnal dan artikel di berbagai media massa.

Hal itu setidaknya menjadi stimulus buat seluruh prajurit matra laut terlepas apapun kepangkatan dan penugasannya. Penulis juga melihat bahwa kompetensi menjadi penentu dari profesionalitas dan karakter modern para prajurit matra laut.

Ciri manusia modern adalah penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Melalui kompetensi yang mumpuni, seorang prajurit matra laut akan cepat menguasai IPTEK. Di awal tulisan, sudah dijelaskan tentang sejarah TNI AL dan produknya dalam kemajuan maritim. Pemahaman sejarah itu berperan dalam membentuk wawasan Nusantara, National Character Building khususnya bagi prajurit matra laut dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Tentu akan menjadi bumerang, baik bagi TNI AL maupun negara ketika tingginya IPTEK seorang prajurit, namun tidak dilandasi dengan National Character Building. Sehingga yang demikian berpotensi menjadi pengkhianat bangsa. Tanpa pemahaman wawasan Nusantara yang baik, globalisasi sangat mungkin menggerus karakter bangsa.

Jangan sampai prajurit matra laut mengalami hal demikian. Bangsa Tanah Air ini berharap dari rahim TNI AL kelak akan terlahir pemimpin yang memiliki wawasan maritim secara komprehensif dengan wawasan Nusantara sebagai pondasinya.

Dalam rangka mewujudkan Poros Maritim Dunia, Indonesia tetap memerlukan ocean leadership yang baik dan berjiwa pemimpin yang layak menjadi teladan. Pemimpin yang demikian tentu tidak datang sendirinya. Perlu ditempah, dididik, dan dilatih secara baik serta berkala. Sejarah telah membuktikan bahwa Bung Karno dikelilingi oleh orang-orang seperti Mas Pardi, Ali Sadikin, Mohammad Nazir, RE Martadinata (yang berasal dari TNI AL) serta orang-orang yang bukan berlatar belakang TNI AL tapi memiliki MDA yang baik.

Suatu karya besar dihasilkan oleh generasi mereka dalam bentuk berbagai produk kemaritiman, hingga kini tetap sangat penting keberadaannya dan masih relevan digunakan. Mulai dari Hari Besar Kemaritiman (23 September hingga ditetapkan berdasarkan tanggal dilaksanakannya Musyawarah Maritim I & II), produk hukum, instansi kemaritiman baik milik pemerintah maupun swasta, lembaga pendidikan, dan tentu yang paling penting ialah gagasan serta semangat masing-masing.

Produk sejarah itulah yang harus digunakan sebagai pijakan dalam mewujudkan Poros Maritim Dunia. Prajurit matra laut menjadi tulang punggung atau jembatan antara generasi masa lalu dan masa yang akan datang dengan melahirkan banyak inovasi baru dalam menuju peradaban bangsa maritim. Rakyat Indonesia pun akan menyambut penuh sukacita dengan hadirnya para negarawan maritim.