Memperkuat Daya Saing Bangsa Indonesia dari Ketersediaan Logistik

Kemensos Penuhi Ketersediaan Logistik. KEMENSOS

Sistem Logistik Nasional (Silognas) selalu mendapat tempat terbaik dalam setiap paket kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah. Hal itu mengingat logistik merupakan supply chain terhadap perekonomian suatu bangsa. Kendati demikian bukan berarti arus logistik nasional tak menemui kendala dalam mekanismenya.

Permasalahan yang menyangkut proses perencanaan, implementasi, maupun pergudangan masih kerap terjadi. Oleh Karena itu, asosiasi para pelaku usaha di bidang tersebut terhimpun dalam Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), selalu menjadi mitra pemerintah dalam merumuskan konsep-konsep mengenai Silognas.

Ketua Umum ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi menyatakan pendapatnya bahwa terdapat salah satu hal yang penting dalam kondisi saat ini, yakni terkait informasi teknologi yang dapat memonitor arus barang dari titik awal hingga titik akhir bahkan sampai pada customer. Dalam perbincangan santai tersebut, Yukki juga menjelaskan secara detail mengenai proses logistik dimulai dari filosofi dan pengertiannya, hingga mekanisme serta implikasinya pada perekonomian Nasional. Hubungan antara barang dengan pasar sangat erat dan menjadi suatu proses sebab-akibat, di mana sistem logistik menjadi media penghubungnya.

Dari proses tersebut kemudian muncul the flow of good atau pergerakan suatu barang yang baik berdasarkan informasi teknologi. Selanjutnya, transportasi juga menjadi hal yang tak terpisahkan dari alur proses tersebut. Jika kita melihat transportasi yang berkembang saat ini, terdapat empat moda yakni darat, laut, udara dan kalau di luar negeri penyaluran barang lewat pipa juga termasuk distribusi.

Mengingat betapa vitalnya sistem logistik di suatu negara, maka alur tersebut merupakan bagian dari membangun daya saing suatu bangsa. Karena semua lini dan bidang pada akhirnya membutuhkan logistik. Daya saing bangsa merupakan proses menuju suatu efisiensi yang berdampak pada economy integrated. Jika membahas topik logistik, tidak bisa melibatkan satu Kementerian saja melainkan banyak kementerian yang terkait dengan ini.

Pria yang juga menjadi chairman ASEAN Federation of Forwarders Associations (AFFA) tersebut mencontohkan fenomena-fenomena yang terjadi saat ini ketika proses logistik tidak berjalan dengan baik. Misalnya kelangkaan pada garam, gula, beras, daging sapi, dan komoditi-komoditi lainnya.

Jika menilik lebih jauh, pada kenyataannya inti permasalahan sebenarnya ada pada alur logistik yang terputus dalam perangkat sistemnya. Sehingga pergerakan barang menjadi terhenti yang akhirnya tidak sampai kepada konsumen dan menimbulkan kelangkaan serta lonjakan harga yang tinggi. Logistik tersebut juga meng-ensure sebuah availability terhadap akses pasar, harga, dan quality suatu barang. hal tersebut dapat menjadi pendorong bagi perdagangan di suatu negara.

Logistik merupakan alur yang tidak mengenal ending story maka hal itu harus diperbaiki secara terus menerus. Buktinya terdapat 16 paket regulasi ekonomi yang dibuat oleh pemerintah. Ada paket kebijakan khusus yang menitik-beratkan pada alur logistik nasional di antaranya, paket kebijakan ke 9, 10, 11, 12, dan 15.

Sejauh ini kita dapat mengamati jaringan sistem logistik nasional Tanah Air misalnya proses barang bergerak dari desa ke kota atau dari kota ke tempat terpencil dan tiap-tiap provinsi, hingga lintas negara. Biasanya dalam lintas negara menggunakan airport atau port. Sedangkan jaringan sistem logistik yang menggunakan trucking hanya di Malaysia karena berbatasan darat dengan Kalimantan dan Papua Nugini.

Namun isyarat trucking lintas negara dengan menggunakan kapal Feri dapat terjadi pada tahun 2025 mendatang. Oleh karenai itu, persiapan segala infrastruktur dan SDM perlu digalakkan sejak sekarang. Keoptimisan akan hal itu kian terbuka ketika visi pemerintah saat ini menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia melalui Tol Laut dan Nawacita.

Visi yang mendunia tersebut dapat menjadi kenyataan mengingat logistik juga menjadi bagian dari global networking yang melintasi berbagai benua dan samudra. Ekonomi Indonesia saat ini tidak bisa berdiri sendiri, kita bagian dari global. Hampir 95 persen perekonomian dunia ditentukan oleh market dan swasta, sehingga kita perlu berkolaborasi dan menghilangkan ego sektoral.

Matriks Logistik

Dalam proses logistik suatu negara terdapat matriks yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur. Matriks logistik terbagi dalam distribution network, transportation network, information network, dan financial network. Distribution network meliputi provider, distributor, dan infrastruktur yang keseluruhan mengarahkan pada pola perdagangan di suatu wilayah. Sementara transportation network mencakup gudang, jenis transportasi yang digunakan, jasa pengangkutan, tempat pengangkutan dan segala hal yang berkaitan dengan transportasi.

Ketika kita membahas information network yang meliputi data dan informasi terhadap suatu barang dan market beserta tools-nya. Di dalamnya juga menyangkut telecommunication network.

Sedangkan financial network meliputi bank, asuransi, dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB). Kemudian alatnya terkait ATM, internet banking, SMS banking, cash basis, dan Telegraphic transfer (T/T). Dari keempat matriks logistik tersebut membuktikan bahwa sistem tersebut merupakan pola yang kompleks karena banyak melibatkan berbagai komponen. Sehingga para pelaku usaha di bidang tersebut juga dituntut memiliki skill dan knowledge yang memadai. Atas dasar itu, ALFI ketika beranggotakan 3.216 anggota, tersebar di 34 provinsi di wilayah Indonesia telah membuka ALFI Institute. Hal itu bertujuan untuk mencetak SDM logistik dan forwarder yang berdaya saing global.

Terdapat empat program pendidikan utama yang menjadi fokus ALFI Institute dalam mendukung reformasi logistik yaitu Basic International Freight Forwarding Course, FIATA Diploma in International Freight Forwarding, FIATA Higher Diploma in Supply Chain Management, dan Logistics Management. Program tersebut pun pendidikannya berjenjang mulai dari basic hingga higher diploma. sumber terpenting dari semua ini agar kita memiliki daya saing kuat secara global, karena SDM merupakan hal yang paling penting dalam membangun suatu bisnis.

Ekonomi Berbagi

Karena banyak melibatkan berbagai komponen, maka bisnis logistik sejatinya bisa menjadi wadah ekonomi atau sharing economy. Konsep ini kemudian bisa dijalankan dengan sistem digitalisasi yang bermanfaat untuk menekan biaya logistik dan menumbuhkan keuntungan bersama.

Sebagaimana disampaikan oleh salah satu pelaku usaha logistik Adharta Ongkosaputra, yang lebih dari 30 tahun menggeluti usaha tersebut. Menurutnya kita bisa menekan biaya dengan cara digitalisasi setiap pembiayaan dan melakukan kolaborasi serta investasi yang mempunyai nilai tambah

CEO PT Aditya Aryaprawira tersebut menyebutkan bahwa kolaborasi di sini lebih kepada penekanan biaya dalam sistem logistik seperti biaya trucking contohnya. Trucking yang menyangkut berbagai komponen seperti truk, ban, bahan bakar, dan sopir, semua tersebut dapat digitalisasi dalam per hari, per jam, atau per kilometer.

Susunan dari seluruh komponen itu dibuat secara sistematis di mana masing-masing komponen memiliki nilai tambah. Begitu juga dengan kapal yang menyangkut maintenance (docking), bahan bakarnya, asuransi, dan sebagainya. Sebagai sebuah operator ia mudah menghitung biaya dengan kolaborasi seperti itu.

Sementara kesulitan yang dihadapi ketika itu, sulitnya menghitung biaya. Keseluruhan tersebut dikenal dengan sistem ‘tanggung renteng’, rugi sama-sama dan untung pun sama-sama. Jika keseluruhan sistem tersebut sudah berjalan, semua pihak pasti ingin untung dan tidak mau rugi.

Hal itu merupakan prinsip kebersamaan atau kolaborasi yang dapat dijual dengan adanya nilai tambah. Pihak-bank dan asuransi pun bisa menjadi bagian ini pada saat menanggung awal dari biaya-biaya yang menyangkut komponen tadi. Digitalisasi ini sangat bagus karena dapat menolong krisis yang ada. Inilah sistem yang membagi-bagikan bisnis yang ada dan saling berjamaah. Tidak ada yang curang dari sistem tersebut karena diawasi beramai-ramai.

Sistem kolaborasi ini selain untuk meminimalisir cost juga menghasilkan keuntungan bersama yang penuh dengan rasa gotong royong serta jauh dari ego sektoral. Suatu prinsip yang notabene sudah diatur dalam Pasal 33 ayat 1 UUD 1945 yaitu, Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Hal itu sejalan dengan apa yang disampaikan oleh ketua umum ALFI ketika itu, bahwa bisnis logistik dapat menambah daya saing bangsa yang tentunya dijalankan pula dengan prinsip kebersamaan.