Menggali Potensi Kemaritiman Indonesia dari Pinggiran

Reflections Oceans Prosperity Report. WORLDBANK

Laut Indonesia kaya akan sumber daya alam, seharusnya Indonesia sudah swasembada pangan laut dan seluruh kekayaan sumber dayanya. sampai saat ini masih menjadi tugas besar para pemangku kebijakan di bidang Maritim dan Kelautan. Laut Indonesia harus dijaga keamanannya dan berdaya sumber alamnya.

Beberapa waktu lalu perhelatan Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) 2016 lalu dilepas dengan gegap gempita oleh Bapak Luhut Binsar Pandjaitan ketika menjabat di dermaga JICT, tepat pada tanggal 22 September 2016. ENJ 2016 merupakan salah satu program unggulan Kemenko bidang Kemaritiman ketika itu dalam membangun SDM Maritim untuk menggali potensi kemaritiman di pulau-pulau terluar, terpencil, dan terpelosok (3T).

Kegiatan-kegiatan ENJ tersebut merupakan sarana pengabdian bagi putra-putri terbaik bangsa yang terpilih dalam event tahunan. ENJ 2016 merupakan kali kedua, Kemenko Maritim menyelenggarakan kegiatan bertajuk pengabdian di pulau-pulau 3T. Setelah sebelumnya, pada 2015 Kemenko Maritim berhasil melaksanakan program tersebut di beberapa daerah di Indonesia.

Terkait dengan upaya untuk memperkuat Kemaritiman Indonesia sebagai ‘poros maritim dunia,’ pemerintah telah mencetuskan program Nawacita 1 dan Nawacita 3, beberapa bunyi kalimatnya sebagai berikut: Nawacita 1, menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya, dan pembangunan ketahanan negara Tri Matra Terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri bangsa sebagai bangsa maritim. Nawacita 3, membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Dengan program-program tersebut, ENJ 2016 telah menjadikan negara hadir di tengah-tengah rakyat Indonesia yang berada di pulau-pulau terdepan. Bapak Luhut kemudian menanggapi hal tersebut dalam sambutannya pada event Pelepasan Peserta ENJ 2016, bahwa melalui program tersebut ia dan tim akan pasti berusaha menjawab semuanya, untuk mengunjungi saudara-saudara yang ada di pulau-pulau terpencil dan terluar di daerah Indonesia.

Pengabdian yang bernafaskan Nawacita itu pada tahun 2016 lalu ternyata menargetkan 24 provinsi yang akan dikunjungi oleh semua peserta. Dengan masing-masing titik dipandu oleh satu orang mentor yang merupakan alumni ENJ 2015.

Pada tanggal 14 Januari 2017, Deputi IV Kemenko Maritim bidang SDM, IPTEK, dan Budaya Maritim, Safri Burhanuddin ketika itu menyampaikan bahwa ENJ telah menempa para pesertanya untuk memiliki jiwa maritim yang kuat guna menopang Indonesia sebagai ‘Negara Maritim.’ Optimisme Bapak Safri juga disampaikan olehnya sendiri bahwa program yang pernah diselenggarakan tersebut akan terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Program tersebut dinilai memiliki dampak positif yang banyak sekali.

Awalnya konsep tersebut dibangun untuk mewujudkan konsep ‘tol laut’ atau untuk memperlancar konektivitas barang dan jasa di setiap pulau. Peranan kapal-kapal perintis dan kapal TNI AL dalam mengangkut barang dioptimalkan pula di event tersebut pada tahun 2015 lalu. Namun pada 2016, kapal TNI AL nyatanya tidak dilibatkan karena keterbatasan anggaran. Orientasi program tersebut adalah pulau-pulau terpencil yang tidak bisa disinggahi KRI. Oleh karena itu alternatifnya dengan menggunakan kapal perintis dan Kapal ferry, bahkan ada juga kapal nelayan yang mengangkut peserta.

Para peserta ENJ 2016 yang didominasi oleh mahasiswa waktu itu, mereka tidak hanya membawa barang-barang perlengkapan kebutuhan ketika mengunjungi pulau-pulau terdepan. Melainkan selama kurang lebih 10 hari, mereka menetap di pulau tersebut untuk menjalankan program di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi. Artinya mereka dibekali misi program untuk dijalankan di daerah tempat mereka ditugaskan.

Kehadiran mereka diharapkan dapat membawa nuansa baru dalam peningkatan pendapatan dan kualitas SDM masyarakat di pulau terpencil. Hal itulah yang dimaksud oleh Pak Luhut ketika itu bahwa kita semua harus mempererat persatuan dan kesatuan dengan saling mengenal semua saudara-saudara termasuk saudara yang ada di pulau terpencil.

Kenangan tersendiri begitu membekas bagi para peserta ENJ 2016. Pengalaman mereka mengunjungi pulau terpencil dan dapat bercengkrama dengan masyarakat di pulau tersebut, terus terbayang dalam memori mereka meninggalkan cerita dan serangkaian wawasan baru terkait pula masukan pembenahan untuk meratakan pembangunan Indonesia. Melihat Indonesia harus secara menyeluruh. Itulah yang pernah dialami oleh Mentor ENJ 2016 Provinsi Kepri, Rahmat Khairul waktu itu. Dengan daerah tujuan Pulau Midai yang berada di Kepulauan Natuna dan berbatasan langsung dengan Laut China Selatan, Rahmat beserta timnya menggelar berbagai kegiatan di sana.

Mahasiswa FKIP Universitas Riau tersebut sangat senang melihat antusias masyarakat Pulau Midai dalam menyambut mereka. Masyarakat dan para perangkat desanya sangat ramah menyambut kedatangan mereka. Selama di sana, tiap hari kita selalu mengagendakan kegiatan dari mengajar, pengobatan gratis, dan membersihkan lingkungan.

Pulau Midai yang dikenal sebagai pulau penghasil kopra, cengkih, dan sebagian besar masyarakatnya berprofesi menjadi nelayan tersebut ternyata merupakan ‘Benteng NKRI’ di LCS. Kehadiran Tim ENJ 2016 di pulau tersebut juga menjadi penegasan pemerintah akan kedaulatan NKRI di pulau itu.

Rahmat ketika itu menyampaikan keadaan di sana bahwa kondisi masyarakat di sana masih sangat kurang dan terbatas sekali infrastrukturnya. Penghasilannya pun juga di bawah rata-rata. Banyak dari mereka yang akhirnya memutuskan untuk pindah atau merantau ke daerah lain bahkan ke negara tetangga untuk memperbaiki keadaan ekonomi.

Usai pengabdian, seluruh tim ENJ 2016 kemudian menyerahkan laporan kepada staf Deputi IV Kemenko Maritim waktu itu untuk dilihat potensi daerah yang dikunjungi para peserta. Selain itu, laporan-laporan tersebut juga menjadi bahan masukan pemerintah mengembangkan pulau-pulau terpencil di Indonesia agar tingkat kesejahteraan mereka berangsur membaik. Itulah bukti negara hadir di setiap jengkal tanah Ibu Pertiwi sebagaimana yang tertuang dalam Nawacita.