Perang Air AS vs China 2021

Kapal China. PINTEREST

The next frontier of South China Sea….

Perebutan baku cadang air bersih. Iya, ada teknologi desalinasi air laut yang terus berkembang. Tetapi penguasaan baku cadang air bersih menjadi sangat vital, strategis, dan krusial karena tidak ada makhluk hidup yang mampu hidup tanpa air bersih.

Masyarakat global saat ini telah menggunakan 22 persen dari total baku cadang air bersih dunia. Negara maju dan berpenghasilan tinggi rata-rata mengonsumsi 59 persen air bersih untuk kehidupannya.

Industri pertanian dan peternakan, khususnya sapi, memang paling boros air. Hal itu menjadi alasan mengapa Bill Gates mengatakan untuk berhenti makan daging sapi.

Lain halnya pada negara miskin dan berpenghasilan rendah yang hanya memiliki rata-rata mengonsumsi 8 persen air bersih untuk kehidupan sehari-hari. Ya, memang benar-benar hanya untuk kebutuhan dasar menjaga kehidupan.

Baku cadang air bersih dibagi menjadi tiga. Pertama, air permukaan (danau dan sungai) yang totalnya 0.29 persen dari keseluruhan sumber air bersih dan paling banyak digunakan saat ini. Kedua, gunung es Antartika yang merupakan 75 persen baku cadang air bersih dunia, dan menjadi indikator perubahan iklim global saat ini.

Ketiga, sumber bawah tanah, yaitu sungai bawah tanah dan danau air tawar di bawah permukaan bumi sedalam 700 km yang membentang dari Samudra Atlantik hingga Samudra Pasifik (New Scientist) dengan sesar-sesar yang menghasilkan panas bumi di sekitar Ring of Fire dan Coral Triangle, di mana Indonesia menjadi nama negara di wilayah tersebut.

Sumber ketiga tersebut merupakan cadangan air bersih untuk masa depan. Jadi, bangsa mana saja yang hendak bertahan 100 tahun atau lebih dari 1000 tahun, wajib menguasai dan mengelola air bersih ini.

Hal itu disebabkan air bersih merupakan sumber daya alami yang jumlahnya akan selalu tetap. Polusi tidak mengurangi kuantitasnya, tetapi menurunkan kualitasnya. Teknologi tidak menciptakan air bersih, tetapi water treatment dan ragam teknologi lainnya menjaga dan meningkatkan kualitas air.

Laut China Selatan adalah pintu gerbang menuju wilayah Coral Triangle, di mana pada wilayah ini banyak sesar atau patahan yang menghasilkan panas bumi, sekaligus pintu ke sumber air bersih yang ada di bawah permukaaan bumi tersebut.

Tidak heran jika situasi saat ini hingga beberapa waktu mendatang berpotensi memanas di Laut China Selatan terus ke arah Pasifik, semata untuk perebutan baku cadang air bersih masa depan dalam bentuk sumber-sumber panas bumi.

Indonesia kaya akan sumber daya itu, terutama di Kepulauan WIT dengan sentra yang sudah teridentifikasi pada tahun 2017 adalah Pulau Flores, NTT. Pemerintah Indonesia c.q Kementerian ESDM sudah menjadikan Pulau Flores sebagai pusat pengembangan energi terbarukan berbasis panas bumi dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 2268 Tahun 2017.

Namun, dalam implementasinya masih banyak catatan. Bahkan, setelah UU Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air diberlakukan. Terutama terkait proses pengelolaan sumber daya air yang masih belum mendapat titik temu sesuai perkembangan dan kebutuhan hukum masyarakat.

Kini, baik Amerika Serikat maupun China sudah menuju ke arah perebutan sumber air bersih via kekuatan militer yang diawali dari Laut China Selatan. Hal itu merupakan berita beberapa waktu lalu.

Bagaimana Indonesia akan mengelola SDA vital, strategis, dan krusial ini? ‘Pertempurannya’ sudah di depan mata, dan pola infiltrasinya sudah sampai halaman kita, khususnya di wilayah hutan konservasi kita.

Hati-hati dan cermati. Kolaborasi itu harus mengingat banyaknya PR terkait spatial kita yang harus dibenahi. Tetapi pola pertahanan hijau itu suatu keharusan yang tidak bisa ditawar lagi. Namun, bukan untuk sesuatu yang dipertentangkan, karena semua ada ruangnya.