Membenahi Kegagapan Sejarah Hari Maritim Nasional

Sejarah Bangsa Indonesia, Bangsa Maritim. INDONESIA

Pada 21 Agustus 2017 lalu, gegap gempita mewarnai jagad media sosial terkait ucapan selamat tentang Hari Maritim Nasional. Tak ketinggalan, dari perusahaan swasta, organisasi maritim hingga instansi pemerintah juga turut mengucapkan peringatan tersebut. Bagaikan anak ayam kehilangan induknya, itulah fenomena yang terjadi saat ini ketika khalayak yang gandrung akan kemaritiman ingin menampilkan sumbangsih kecilnya terhadap kemajuan maritim Indonesia. Visi pemerintah ‘Poros Maritim Dunia’ telah menimbulkan dampak positif di berbagai kalangan yang antusias terhadap semangat maritim.

Namun, apa daya? Jika tidak diiringi dengan dasar keilmuan yang cukup dikhawatirkan semangat itu akan melesat seperti anak panah yang tidak tahu arah. Kurang lebih seperti itulah ungkapan yang cocok menggambarkan situasi masyarakat kita saat ini di tengah laju visi Poros Maritim Dunia.

Peringatan Hari Maritim Nasional tanggal 21 Agustus tahun 2017 lalu, merupakan bukti ketidaktahuan mayoritas anak bangsa saat ini yang concern terhadap isu-isu kemaritiman. Kendati hal itu dianggap sepele, namun maknanya cukup besar dalam rangka membangun karakter maritim bangsa yang kelak akan menjadi fondasi bagi negara maritim.

Sama halnya dengan seseorang yang tidak tahu akan hari lahirnya dan siapa orang tuanya, maka orang itu cenderung tidak mengenal siapa dirinya, apalagi Tuhannya. Meskipun orang tersebut kerap show of dalam ranah-ranah publik, atau katakanlah sebagai public figure, namun tetap saja ibarat suatu membangun rumah kardus yang dapat terhempas kapan pun karena tak memiliki dasar yang kuat. Begitu pula dengan pembangunan maritim Indonesia saat ini, meskipun terkesan lebih menitikberatkan kepada infrastruktur dan ekonomi namun dasar sejarah dan kebudayaan tidak boleh hilang. Itulah jati diri kita sebagai bangsa maritim yang notabene terbangun dari dasar sejarah perjalanan panjang bangsa Indonesia di setiap era.

Deputi IV bidang IPTEK, Budaya dan SDM Maritim Kemenko Maritim di pertengahan tahun 2015 lalu pernah mengulas polemik Hari Maritim Nasional dalam suatu Forum Group Discussion (FGD) yang menghadirkan para pakar antara lain wartawan sejara dan penulis maritim Wenri Wanhar dari Jawapos, Kasubdisjarah Dispenal Kolonel Laut (P) Rony Turangan serta para komunitas maritim dan sejarah. Hasil pembahasan itu telah mengerucut pada satu tanggal yakni 23 September.

Alhasil penetapan tanggal tersebut ternyata memiliki landasan kuat secara sejarah. Ternyata, penetapan Hari Maritim Nasional sudah dilakukan oleh Sang Proklamator Bung Karno, melalui Keppres Nomor 249 Tahun 1964. Sejarahnya, pada tanggal 23 September 1963 lalu telah dilangsungkan Musyawarah Nasional Maritim pertama yang dihadiri oleh seluruh stakeholder kemaritiman di daerah Tugu Tani, Jakarta. Hasil musyawarah tersebut salah satunya mengangkat Bung Karno sebagai Nakhoda Agung NKRI untuk menuju negara maritim yang digdaya sesuai dengan amanat Proklamasi 17 Agustus 1945 dan Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957.

Deputi IV Kemenko Maritim, Safri Burhanuddin waktu itu ketika dikonfirmasi membenarkan hal tersebut. Tanggal 23 September merupakan Hari Maritim Nasional yang sah namun memang belum banyak diketahui orang. Ketika itu orang lebih tahu 21 Agustus sebagai Hari Maritim Nasional Karena sempat viral di media sosial dan dari oknum yang tidak bertanggung jawab. Safri, pria asal Makassar itu berargumen bahwa kita harus mengerti sejarah bangsa ini kalau ingin menjadi bangsa yang besar. Secara data, fakta dan dasar hukum sudah ada bahwa 23 September merupakan Hari Maritim Nasional. Dan tanggal 21 Agustus itu tidak jelas dasarnya basisnya.

Dalam penetapan Hari Maritim Nasional juga menyimpan makna mendalam terkait pembangunan maritim Indonesia, baik saat ini dan untuk yang akan datang. Secara tersirat, Bung Karno telah menyampaikan pesan bahwa membangun maritim sebagai bagian dari nation-building dan nation-rebuilding memerlukan gotong royong dari segenap stakeholder kemaritiman.

Dalam musyawarah nasional maritim itulah arah pembangunan maritim Indonesia disusun yang tentunya tidak ada ego sektoral sama sekali dalam prosesnya. Bung Karno di masa itu pun mengingatkan bahwa ego sektoral yang merupakan cerminan individualisme dan riak-riak kecil perpecahan telah menjadi momok yang berbahaya dalam membangun kemaritiman bangsa.

Safri juga menambahkan bahwa tidak ada gunanya kita semua ribut-ribut apalagi menonjolkan ego sektoral, lebih baik kita semua bergotong royong membangun maritim Indonesia. Peringatan Hari Maritim Nasional itu senyatanya sebagai sarana dalam membangun karakter untuk tetap bersatu dan saling menguatkan.

Solusi Kegagapan Sejarah

Kekhawatiran Bung Karno di era 1960-an itu seakan terbukti. Dalam laju membangun Poros Maritim Dunia, pemerintah masih dihadapkan dengan isu-isu ego sektoral. Baik antar instansi pemerintah, swasta maupun masyarakatnya lebih cenderung suka gontok-gontokan ketimbang membangun visi bersama. Itulah kelemahan karakter dari bangsa ini.

Jika kita lupa akan sejarah, senyatanya kita juga akan lupa terhadap hukum-hukum yang menguasai kehidupan manusia. Begitulah keyakinan orang-orang yang bergelut di bidang sejarah, yang terpatri dalam hatinya. Demikian ternyata sesuai dengan pidato Bung Karno tentang ‘Jas Merah’, “jangan sekali-kali melupakan sejarah”, pada tahun 1951 dan 1966.

Ketua Bidang Sejarah APMI (Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia-red) Ahmad Pratomo menegaskan, karena kurangnya edukasi mengenai sejarah, bangsa dari elit sampai masyarakat biasa, akibatnya seperti mengalami kegagapan sejarah. Praktis hal itu berujung pada ambruknya bangunan moral dan etika suatu bangsa. Tomy, Lulusan S2 Sejarah UI juga menegaskan bahwa ketidaktahuan sejarah berujung pada sikap dan perilaku masyarakat itu sendiri. Seperti dalam teori struktural yang dikembangkan Anthony Giddens, jika elit politik ataupun intelektual suatu bangsa tidak berfungsi sebagaimana mestinya maka akan berimbas pada struktur di bawahnya.

Dari pandangan Tomy, lebih jauh menerangkan bahwa dampaknya pada pembangunan bangsa maritim dapat berakibat serius saat ini. Kemalasan menjadi faktor utama dalam proses pembangunan. Terutama malas dalam meneliti lebih jauh soal sepak terjang perjalanan Indonesia sebagai bangsa maritim.

Baik dari periode Sriwijaya dan Majapahit hingga kemerdekaan. Bahkan sampai terakhir era Reformasi saat ini, seluruhnya dapat ditemukan benang merah sejarah pembangunan maritim. Akibat dari rasa kemalasan melihat sejarah, sebagaimana yang kita ketahui, simbol-simbol kemaritiman bangsa seperti tokoh maritim nasional dan kini kisruh Hari Maritim Nasional bukan suatu hal yang diprioritaskan. Padahal simbolisasi seperti itu menunjukan identitas kita sebagai bangsa maritim.

Celakanya juga, ada seorang tokoh yang concern di bidang kemaritiman, ketika ditanya mengapa memperingati 21 Agustus sebagai Hari Maritim Nasional waktu itu, jawabnya “karena itu yang saat ini sedang viral”. Bayangkan saja jika pemikiran seorang sebagaimana tersebut ketika menjadi tauladan bagi khalayak ramai. Padahal seharusnya, ia dapat mengkaji lebih jeli asal usul penetapan itu, bukan hanya ikut arus kebanyakan orang.

Dilihat dari implikasi tersebut, tentunya simbolisasi ‘Hari Maritim Nasional’ bukan suatu masalah sepele di bangsa ini, melainkan merupakan masalah serius. Karena dari hal simbolisasi saja bangsa ini cenderung memandang sebelah mata, apalagi dengan masalah-masalah besar lainnya, bisa jadi demikian (memandang sebelah mata). Jika kejadian itu diteruskan tanpa ada tindakan tegas dari pemerintah melalui kementerian terkait, maka bukan tidak mungkin bangsa ini akan semakin kehilangan jati dirinya.

Mengatasi kegagapan sejarah tentang maritim di masa lalu, rupanya tahun 2021 rupanya tema yang diusung dalam memperingati hari maritim yakni ‘Literasi Maritim,’ Hal itu sudah cukup bagus untuk memulihkan keadaan terhadap kegagapan sejarah tentang ‘Maritim Indonesia’. Bangsa Indonesia butuh wadah untuk mendukung dan membangunkan mereka dari masalah kegagapan tentang maritim. Dengan menggalakkan literasi maritim, merupakan langkah tepat untuk terus dikembangkan.