Upaya Indonesia Wujudkan Poros Maritim Dunia

Indonesia harus kembali Membangun Budaya Maritim. LIPI

Indonesia merupakan suatu negara yang memiliki panjang garis pantai 99.083 km, yang menjadikan negara ini terpilih sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Suatu keistimewaan karena potensi maritimnya. Selain itu, letak geografis negara ini berada di antara dua benua dan dua samudera menyebabkan laut Indonesia hingga kini cukup padat dilintasi oleh kapal-kapal perdagangan dari berbagai negara di dunia. Hampir 80 persen perdagangan dilakukan melalui jalur laut, dan 40 persennya melintasi laut Indonesia.

Potensi maritim dan keistimewaan alam yang dimiliki oleh Indonesia merupakan salah satu bidang keunggulan yang perlu dirawat dan dilestarikan. Oleh karena itu, perlu memperkuat bidang kemaritiman dengan sebaik-baik pengelolaan. Tidak mudah memimpin negara ini, tetapi bukan tidak bisa dilakukan jika kerja sama tidak terus dipupuk sejak dini.

Alasan mengapa kita harus bangga terhadap potensi maritim Indonesia, selain karena kekayaan lautnya, rekam sejarah nenek moyang bangsa Indonesia merupakan seorang pelaut dan hal itu perlu dibangkitkan lagi semangatnya.

Menilik rekam sejarah pemimpin kerajaan pada masa dahulu, sebut saja salah satunya Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma, Raja Mataram Islam tahun 1613-1645. Pada masa pemerintahannya, pernah mengirim pasukan kurang lebih mencapai 100 ribu pasukan tahun 1628 (20-ribuan) dan 1629 (80-ribuan) meskipun mengalami kegagalan melawan VOC.

Sultan Agung menggunakan laut sebagai medium untuk dominion dengan kekuatan laut untuk memperluas wilayah kekuasaan. Jawa dan Madura dalam satu pemerintahan, hingga keinginannya merebut Batavia dari pengaruh VOC melalui berbagai strategi penyerangan yang salah satunya dengan penyerangan jalur laut.

Dari sejarah kita belajar fakta-fakta bahwa nenek moyang bangsa Indonesia cukup dengan dengan aktivitasnya di laut. Dengan istilah lain, bangsa Indonesia merupakan bangsa bahari dan bangsa maritim. Dari laut ada sumber kekayaan alam untuk dinikmati.

Masa abad ke 16 dan 17, mayoritas pekerjaan masyarakat Indonesia adalah pelaut dan berada di lautan. Mereka bekerja sebagai nelayan. Layaknya di masa sekarang, seorang nelayan merupakan pekerjaan yang menjanjikan seperti pekerjaan menjadi seorang ASN atau dokter. Namun, di abad ke-21 ini kenyataan sangat berbeda. Profesi pelaut menjadi kalah pamor dari profesi lainnya yang notabene pekerjaan di darat.

Melansir dari artikel Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, pada abad ke 16 dan 17 Masehi, budaya maritim cukup dekat dengan kehidupan bangsa Indonesia. Ada banyak rekam sejarah yang menunjukkan fakta tersebut. Andrian B. Lapian juga menyebutkan ada bukti-bukti sejarah seperti prasasti dan catatan kuno dari bangsa Portugis yang menyebutkan nenek moyang bangsa Indonesia sangat andal dalam pelayaran atau kelautannya, mampu menjelajah samudera hingga membuat bangsa pendatang kagum terhadap bangsa ini.

Tidak hanya dalam pelayarannya, bangsa Indonesia juga tangkas dalam bidang navigasi. Hal ini pula berdasarkan dengan kompas sederhana dan peta-peta yang bergambar pulau-pulau Indonesia. Bahkan petunjuk dalam pelayaran yang disusun oleh Fransisco Rodriques merujuk pada pengetahuan dari pelaut Indonesia.

Di samping itu ada pula peta yang dikirim oleh raja di Eropa dengan keterangan bertulis huruf Jawa. Bukti lainnya, pernyataan dari Ludovico de Varthema yang menggunakan kompas sebagai penunjuk pelayaran ke dari Kalimantan ke pulau Jawa.

Sejumlah bukti-bukti tersebut mewakili kesaksian bahwa nenek moyang bangsa Indonesia di zaman dahulu tercatat sebagai bangsa yang memiliki keahlian di bidang kemaritiman. Lalu, bagaimana kita menerapkan hal demikian agar semangat maritim bangsa Indonesia mulai dibangkitkan lagi?

Lima Pilar Kebijakan Utama

Potensi maritim Indonesia yang kaya akan potensi lautnya mengharuskan Indonesia untuk meningkatkan keamanan dan pelestariannya. Alasan mengapa hal ini dianggap penting, sebagaimana pandangan dari Marsetio dalam buku Sea Power Indonesia (2014), kemasyhuran Indonesia ditentukan dari ketangguhan di darat, kejayaan di laut, dan keperkasaan di udara.

Kejayaan laut, dimaksudkan dengan memperkuat maritim dan kelautan. Letak Indonesia yang strategis berada di tengah-tengah kawasan perubahan antara negara-negara maju dengan kegiatan perdagangan yang cukup padat. Mayoritas perdagangan dunia melalui jalur laut sedangkan negara Indonesia berada di tengah-tengah kawasan lalu lintas tersebut.

Laut menjadi bagian penting yang memengaruhi kemasyhuran negeri Indonesia. Kekuasaan wilayah tidak hanya dilihat pada kawasan daratnya, artinya Indonesia memiliki keluasan wilayah laut yang cukup luas dibanding daratan. Kekayaan laut dan potensinya seharusnya sudah sangat mampu menopang kebutuhan hidup suatu bangsa.

Menyadari keadaan yang sedang terjadi saat ini, Indonesia perlu memperkuat kemaritiman dengan menjadi poros maritim dunia. Oleh karena itu, ada lima upaya kebijakan utama untuk membangun maritim Indonesia. Melansir dari artikel maritim.go, kebijakan lima pilar tersebut meliputi beberapa hal.

Pertama, memastikan integritas wilayah dan memperluas yurisdiksi. Kedua, Menjaga pertahanan dan keamanan. Ketiga, memastikan keselamatan. Keempat, mengelola sumber daya terlaksana dengan bertanggung jawab. Kelima, memproyeksikan kepentingan nasional melalui leadership Indonesia di dunia internasional.

Selain dari upaya di atas, pemerintah Indonesia menetapkan perairannya dengan Traffic Separation Scheme (TSS) yang artinya skema pemisahan lalu lintas kapal yang berusaha untuk meningkatkan keselamatan navigasi di perairan laut Indonesia, khususnya di jalur pelayaran internasional yang dipadati oleh kapan-kapal dari negara lain.

Supaya bisa memantau keselamatan lalu lintas perairan, maka diharuskan kepada setiap kapal asing yang melewati perairan Indonesia untuk melaporkan diri agar pemerintah bisa memantau keselamatan kapal termasuk pelautnya. Hal ini juga berlaku bagi pelaut atau nelayan Indonesia, untuk menjaga keselamatan dalam melakukan pelayaran.

Cita-cita besar Indonesia menjadi poros maritim dunia membutuhkan peningkatan keamanan dan pembangunan infrastruktur sektor kelautan. Langkah serius melindungi laut dari illegal fishing kapal asing yang mencuri kekayaan laut Indonesia dengan tindakan yang tegas. Karena sumber daya alam perlu dilindungi dan dilestarikan agar masyarakat bisa menikmati kekayaan laut dengan gratis.

Selain itu, pembangunan infrastruktur pelabuhan dan pengecekan mesin kapal pelayaran menjadi salah satu prioritas untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan para penumpang dan para awak kapal yang bermaksud melakukan pelayaran di pulau seberang. Dengan pengelolaan yang tepat dan sesuai sasaran, bukan tidak bisa Indonesia mewujudkan poros maritim dunia.

 

Bahan Bacaan:

https://maritim.go.id/lima-pilar-kebijakan-utama-guna-mewujudkan-indonesia-sebagai/

http://lipi.go.id/berita/single/di-balik-sejarah-pelayaran-indonesia/3029

Marsetio, 2014, Sea Power Indonesia, Jakarta: Universitas Pertahanan.